Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Khamenei Terima Dosis Pertama Vaksin Lokal Iran

Sabtu 26 Jun 2021 06:44 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Christiyaningsih

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei

Foto: EPA-EFE/SUPREME LEADER OFFICE
Ayatollah Ali Khamenei terima vaksin Covid-19 buatan perusahaan farmasi Iran

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menerima vaksin Covid-19 dosis pertamanya, Jumat (25/6). Adapun jenis vaksin yang diterima Khamenei adalah COVIran Barekat, vaksin buatan perusahaan farmasi Iran Shifafarmed. Mantan presiden Republik Islam Iran itu sebelumnya menegaskan tidak akan menerima vaksin buatan luar negeri dan lebih memilih menunggu vaksin buatan Iran.

Shifafarmed mulai mengembangkan vaksin COVIran Barekat sejak akhir Desember tahun lalu. Iran merupakan negara di Timur Tengah yang paling terpuruk karena kurangnya persediaan vaksin. Pada awal 2021, Khamenei telah melarang masuknya vaksin Amerika dan Inggris ke Iran. Sikap ini diambil sebagai bentuk nasionalisme dan ketidakpercayaannya terhadap Barat.

Hingga saat ini, Iran belum mempublikasikan data tentang kemanjuran vaksin, tetapi mengklaim orang yang mendapatkan vaksin buatan dalam negeri itu memiliki sekitar 85 persen kekebalan terhadap virus corona. Para pejabat Iran melaporkan 115 kematian baru akibat Covid-19, menambah total kematian menjadi 83.588 sejak awal pandemi.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Sima Sadat Lari melaporkan 10.820 kasus baru, menambah total kasus positif menjadi 3.150.949. Setidaknya 1.397 tengah menerima perawatan intensif, 3.219 pasien Covid-19 lainnya dalam kondisi kritis, sedangkan total pasien yang pulih sebanyak 2.809.595.

Iran dikabarkan tengah mengerjakan proyek pembuatan vaksin bersama negara lain. Pihak berwenang Iran mengatakan vaksin yang diproduksi Iran besama Kuba ini akan bergabung dengan paket vaksin negara itu dalam beberapa hari mendatang. Penelitian vaksin lokal Iran telah mendapatkan urgensi karena para pejabat menuduh sanksi Amerika yang berat akan menghambat upaya inokulasi massal Republik Islam tersebut.

Sejauh ini Iran masih mempertahankan beberapa akses untuk mendapatkan vaksin, termasuk melalui partisipasinya dalam COVAX, sebuah inisiatif internasional yang dirancang untuk mendistribusikan vaksin ke negara-negara miskin. Akan tetapi lembaga keuangan internasional enggan berurusan dengan Iran karena takut akan hukuman Amerika. Di bawah aturan COVAX, Iran dapat memesan dosis yang cukup untuk memvaksinasi setengah dari 82 juta penduduknya.

sumber : Arab News
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA