Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Menjaga Pasokan Oksigen Cukup Saat Lonjakan Covid-19

Jumat 25 Jun 2021 18:54 WIB

Red: Indira Rezkisari

Petugas kesehatan menyiapkan tabung oksigen untuk pasien positif Covid-19 yang ditampung di tenda darurat Covid-19 di RSUD Kramat Jati, Jakarta, Jumat (25/6). Lonjakan kasus Covid-19 membuat beberapa rumah sakit di Jakarta menyiapkan tenda darurat untuk mengecek kesehatan kondisi pasien terlebih dahulu sebelum dirujuk ke IGD atau menjalani rawat inap. Republika/Putra M. Akbar

Petugas kesehatan menyiapkan tabung oksigen untuk pasien positif Covid-19 yang ditampung di tenda darurat Covid-19 di RSUD Kramat Jati, Jakarta, Jumat (25/6). Lonjakan kasus Covid-19 membuat beberapa rumah sakit di Jakarta menyiapkan tenda darurat untuk mengecek kesehatan kondisi pasien terlebih dahulu sebelum dirujuk ke IGD atau menjalani rawat inap. Republika/Putra M. Akbar

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pasokan oksigen bagi kebutuhan medis Covid-19 didahulukan dibanding industri.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Iit Septyaningsih, Sapto Andika Candra

Kebutuhan oksigen bagi rumah sakit menjadi perhatian khusus ketika kasus Covid-19 terus melonjak. Jumlah pasien yang masuk juga dalam kondisi berat sehingga membutuhkan pasokan oksigen.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII) dan para pelaku industri terkait berupaya menjaga ketersediaan pasokan oksigen medis. Upaya tersebut demi memenuhi kebutuhan sejumlah rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 di seluruh wilayah Indonesia. Langkah sinergi ini diharapkan dapat membantu percepatan penanganan terhadap lonjakan kasus Covid-19 di beberapa daerah.

“Kemenperin sudah membahas dengan asosiasi terkait kekurangan kekurangan oksigen di beberapa rumah sakit di Jawa Tengah. Mereka akan menyuplai dari pabrik-pabrik di Jawa Barat dan Jawa Timur. Kami akan terus memastikan kebutuhan oksigen di rumah sakit terpenuhi dan sudah disanggupi oleh asosiasi,” kata Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang, Jumat (25/6).

Seiring meningkatnya permintaan gas oksigen medis bagi pasien Covid-19, Menperin berharap pasokan listrik untuk industri berjalan lancar dan tidak ada gangguan. Sebab, apabila listrik padam, mesin produksi di industri gas oksigen butuh waktu delapan jam untuk kembali beroperasi.

“Oleh sebab itu, Kemenperin berharap industri yang menyuplai gas oksigen untuk medis juga mendapatkan pasokan listrik terus menerus. Kami meminta Perusahaan Listrik Negara (PLN) memastikan hal ini,” tutur Menperin.

Menurut Menperin, agar suplai logistik gas oksigen bagi medis berjalan lancar diharapkan ada dispensasi bagi truk tangki yang membawa oksigen pada jalan-jalan tertentu menuju rumah sakityang membutuhkan. “Ada jalur yang tidak dapat dilalui oleh truk tanki oksigen karena beban muatan yang cukup besar,” ujarnya.

Kebutuhan oksigen medis dipasok dalam bentuk cair, karena banyak rumah sakit sudah memiliki instalasi gas oksigen. “Selain itu, jumlah tabung oksigen di Jawa Tengah hingga saat ini masih mencukupi, apabila kekurangan dapat lebih dulu menggunakan tabung milik produsen, atau mengambil stok yang ada di Jawa Barat dan Jawa Timur,” jelas Menperin.

Ia mengatakan, Kemenperin akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait pemutakhiran data kebutuhan oksigen di daerah, terutama rumah sakit yang menampung pasien Covid-19. Hal ini diharapkan bisa memastikan supaya pasokan oksigen sesuai dengan kebutuhan daerah dan rumah sakit setempat.

Ia menambahkan, kapasitas produksi gas oksigen di Indonesia 650 juta ton per tahun, sebanyak 300 juta ton per tahun terintegrasi dengan pengguna. Saat ini utilisasi rata-rata industri gas oksigen sekitar 80 persen karena sangat tergantung lokasi.

Pada tahun ini, hingga Juni 2021 tercatat sudah ada tujuh juta liter oksigen yang dipesan. “Produksi dan distribusi gas oksigen diprioritaskan untuk kebutuhan rumah sakit dan fasilitas kesehatan dalam menangani lonjakan kasus Covid-19. Adapun gas oksigen untuk kebutuhan industri disalurkan setelah kebutuhan untuk rumah sakit atau fasilitas kesehatan terpenuhi. Hingga saat ini pengaturan keduanya masih terkendali,” jelas dia.

Sebelumnya Indonesia sudah pernah mengirimkan bantuan oksigen ke India. "Saat melakukan persiapan bantuan oksigen ke India, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga mengantisipasi dan menjamin kebutuhan dalam negeri terpenuhi kalau ada peningkatan kasus Covid-19. Bantuan yang diberikan sebanyak 3.400 tabung atau hanya 0,05 persen dari stok tabung nasional. Jadi tabung oksigen cukup tersedia," kata Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri.

Febri menuturkan, Kemenperin sudah melakukan berbagau pertemuan dengan asosiasi demi mempersiapkan ketersediaan oksigen beserta tabungnya. "Intinya tidak ada kelangkaan tabung oksigen, karena tabung oksigen cukup dan tersedia mengantisipasi lonjakan permintaan akibat meningkatnya kasus Covid-19 di dalam negeri," tegas dia.

Ia menyebut, saat ini para distributor tabung juga masih memiliki stok. Dengan begitu, apabila kebutuhan tabung gas oksigen di rumah sakit terus meningkat bisa langsung dipergunakan.



Ketua Umum Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII), Arief Harsono, menambahkan, pihaknya masih memiliki ketersedian stok 2.000 tabung gas oksigen bagi medis. Jumlah tersebut bisa digunakan mengantisipasi lonjakan permintaan akibat meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air.

"Pada bulan Juli, akan datang lagi tambahan tabung gas. Sehingga kami pastikan ketersediaan tabung gas oksigen untuk medis tercukupi," tuturnya.

Arief mengatakan, asosiasi juga terus memastikan stok regulator tabung, karena merupakan komponen penting yang ketersediaannya harus selalu dijaga dalam mengantisipasi lonjakan jumlah kasus Covid-19. "Kami juga terus cek regulator, karena merupakan komponen penting bagi tabung oksigen," kata dia.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengimbau rumah sakit agak tidak menambah persediaan tabung oksigen medis. Ia menjamin bahwa produksi dan distribusi oksigen di dalam negeri mencukupi, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran pasokan ke rumah sakit terhambat.

Budi mengibaratkan kebutuhan tabung oksigen di rumah sakit sama halnya dengan kebutuhan tabung gas elpiji di rumah. Ibarat dengan jumlah tabung Elpiji yang sama, saat ini sebuah rumah tangga perlu lebih sering mengisi ulang gas karena frekuensi memasak lebih tinggi.

"Nah isunya adalah banyak yang minta tabung LPG-nya supaya tidak sering ganti itu mau menambah jadi empat, sebetulnya nggak perlu, karena toh logistiknya bagus, nggak perlu. Tabungnya nggak usah dibikin jadi empat atau delapan, tapi pengisiannya harus lebih sering," kata Budi dalam keterangan pers, Jumat (25/6).

Demi memastikan ketersediaan pasokan oksigen ini, pemerintah telah mendapat komitmen pengalihan alokasi produksi oksigen industri ke medis. Pemerintah mencatat, kapasitas produksi oksigen di dalam negeri saat ini menapai 845.000 ton per tahun. Dari angka tersebut, sebesar 75 persen disuplai untuk memenuhi permintaan industri dan 25 persen lainnya untuk kebutuhan medis. Produsen oksigen industri dan medis ini tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Jadi ada satu perusahaan oksigen lokal yang memproduksi hampir 90 persen dari di rumah sakit. Kapasitas perusahaan tersebut itu baru terpakai 25 persen, karena 75 persennya untuk industri. Komitmen dari perusahaan ini 75 persen ini siap untuk memasok oksigen di RS," kata Budi.

Baca Juga

photo
Waspada Kenaikan BOR di Rumah Sakit Khusus Covid-19 - (Republika)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA