Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

IDI: Perlu Aktifkan Sistem Telemedis Atasi Lonjakan Covid-19

Jumat 25 Jun 2021 18:26 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Adib Khumaidi, SpOT (kanan)

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Adib Khumaidi, SpOT (kanan)

Foto: Republika/Raisan Al Farisi
IDI menilai perlu mengaktifkan sistem telemedis isoman secara regulasi nasional

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Adib Khumaidi, SpOT mengatakan kondisi pandemi sekarang sudah tergolong sangat krisis. Rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas kesehatan sedang dibanjiri pasien. Adanya usul penambahan tempat tidur berdampak pada hal lain. Misal, pada penambahan prasarana dan tenaga kesehatan yang termasuk mengatur pola shifting.

“Kalau ada penambahan tempat tidur, berdampak pada hal lain. Jumlah lonjakan pasien ini bisa memberikan beban jam kerja dan berisiko pada tenaga kesehatan,” kata dr Adib dalam acara jumpa pers Tim Mitigasi Dokter PB IDI, Jumat (25/6).

Dalam upaya mengurangi dan mengurai jumlah pasien, masyarakat perlu diberikan pemahaman. Dr Adib menyampaikan tiga hal yang bisa menjadi strategi menghadapi pandemi sekarang. Pertama, mengaktifkan sistem telemedis isoman secara regulasi nasional. Sistem ini berguna untuk memantau masyarakat yang sedang isoman.

Selain itu, sistem ini juga bisa memberikan informasi terkait kondisi masyarakat. Sehingga saat mereka datang ke rumah sakit, mereka sudah mengetahui kondisinya.

“Jangan sampai masyarakat tidak tahu kondisinya lalu datang ke rumah sakit dan kondisinya sudah tergolong berat,” ujar dia.

Selain mengedukasi masyarakat soal panduan isoman, pemerintah bisa mulai membuat sistem ini agar tidak semua pasien harus datang ke rumah sakit. “Telemedis juga dilengkapi semacam peringatan. Kalau kondisinya berangsur tidak pulih dan tidak nyaman, maka segera datang ke rumah sakit,” ucap dia.

Dia juga mengimbau agar masyarakat tidak melakukan upaya pengobatan sendiri. Sebab, jika tidak terpantau akan berdampak pada kondisi kesehatan pasien. Strategi selanjutnya adalah terus memberi pemahaman kepada masyarakat tentang penyakit Covid-19 sehingga mereka mampu melakukan isoman dengan pemantauan.

Dalam sistem telekomunikasi itu, pun perlu dilengkapi dengan triase. Sistem ini dibuat supaya tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

“Sistem ini belum ada sehingga menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat karena mereka langsung datang ke rumah sakit. Mereka menganggap kalau kondisinya tidak dapat perawatan akan berakibat fatal,” tambah dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA