Jumat 25 Jun 2021 13:51 WIB

Bandung Zona Merah, Sekda: Tunggu Ratas untuk Pengetatan

Bandung ditetapkan Pemprov Jabar ada dalam zona merah atau risiko tinggi penyebaran

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Gita Amanda
Petugas Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu (P2KT) mengenakan alat pelindung diri (APD) di Gedung Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu (P2KT), Jalan Bapa Husen Dalam, Coblong, Kota Bandung, Kamis (24/6). Data dari P2KT atau Public Safety Center 119 (PSC 119) mencatat, sejak awal Juni 2021 hingga saat ini telah melayani serta menangani sebanyak 1.424 kasus atau sekitar 10 sampai 35 penanganan kasus Covid-19 dan non Covid-19 per hari di wilayah Kota Bandung. Foto: Republika/Abdan Syakura
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Petugas Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu (P2KT) mengenakan alat pelindung diri (APD) di Gedung Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu (P2KT), Jalan Bapa Husen Dalam, Coblong, Kota Bandung, Kamis (24/6). Data dari P2KT atau Public Safety Center 119 (PSC 119) mencatat, sejak awal Juni 2021 hingga saat ini telah melayani serta menangani sebanyak 1.424 kasus atau sekitar 10 sampai 35 penanganan kasus Covid-19 dan non Covid-19 per hari di wilayah Kota Bandung. Foto: Republika/Abdan Syakura

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kota Bandung ditetapkan oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) berada dalam zona merah atau risiko tinggi penyebaran Covid-19. Berdasarkan data yang diterima dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Kota Bandung berada di zona merah dengan skor 1.72.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna, mengatakan akan terlebih dahulu mengadakan rapat terbatas (ratas) dengan pimpinan menyikapi status zona merah. Termasuk apakah akan menambah pengetatan di sektor-sektor kegiatan masyarakat. "Tunggu ratas, mungkin Selasa depan," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (25/6).

Terkait penyebab Kota Bandung yang ditetapkan berstatus zona merah, Ema mengarahkan agar hal tersebut dijawab oleh pihak provinsi yang memberikan label tersebut. "Itu tepatnya tanya provinsi, kan mereka yang memberikan pelabelan," katanya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mengungkapkan bed occupancy rate (BOR) atau keterisian tempat tidur bagi pasien Covid-19 di Kota Bandung sudah mencapai 94 persen lebih atau penuh. Angka tersebut sudah melebihi angka standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dan organisasi kesehatan dunia (WHO) sebesar 60 persen.

"Rumah sakit ada 29, dari 29 itu ssbetulnya punya ruangan isolasi sampai saat ini 2.000 tempat tidur ruang isolasi dan semuanya terisi penuh. Sampai kemarin 94 persen (lebih) data ini melebihi data toleransi 60 persen," ujar Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Bandung, Yorisa Sativa di acara Bandung Menjawab, Kamis (24/6).

Ia mengatakan, pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit berdomisili Kota Bandung hanya mencapai 56 persen sedangkan warga di luar Kota Bandung 44 persen. Fasilitas kesehatan di luar Kota Bandung yang sedikit menyebabkan bertumpu kepada fasilitas kesehatan di Kota Bandung  sehingga menjadi beban berat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement