Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Lonjakan Kasus Usai Lebaran Lebih Tinggi Dibandingkan Nataru

Rabu 23 Jun 2021 20:36 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari

Pasien Covid-19 menunggu untuk dipindahkan ke ruang rawat inap di selasar IGD RSUD Cengkareng, Jakarta Barat.

Pasien Covid-19 menunggu untuk dipindahkan ke ruang rawat inap di selasar IGD RSUD Cengkareng, Jakarta Barat.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Kenaikan kasus usia Lebaran disebabkan pula varian Delta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus Covid-19 di Tanah Air kembali meningkat usai libur Lebaran bulan lalu. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai lonjakan kasus Covid-19 usai libur Idul Fitri lebih tinggi dibandingkan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) awal tahun ini.

Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit & Plt. Dirjen P2P Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu, menjelaskan, setiap agenda libur, termasuk Idul Fitri dan Nataru memicu peningkatan kasus Covid-19 meningkat. "Kasus Covid-19 usai libur nataru kemarin meningkat, khususnya Februari. Kemudian kasus mulai turun saat Maret, April, bahkan awal Mei," katanya saat berbicara di konferensi virtual FMB9 bertema Cegah Penularan dengan Tepat, PPKM Mikro Diperketat, Rabu (23/6).

Saat Idul Fitri, dia melanjutkan, meski pemerintah telah melakukan pengetatan ternyata banyak yang melakukan silaturahmi dan ini yang membuat kasus Covid-19 kembali melonjak. Bahkan, Kemenkes mencatat kenaikannya melewati kenaikan kasus Covid-19 saat libur Nataru.

"Kenaikan kasus secara eksponensial juga terjadi akibat varian baru delta dari India," katanya.

Sebenarnya, ia menilai virus varian apapun bisa menginfeksi jika lalai menerapkan protokol kesehatan (prokes). Sebaliknya, jika orang setia menerapkan protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas maka seharusnya bisa mencegah penularan virus.

"Tetapi protokol kesehatan mulai kendor dan ditambah dengan varian baru, kemudian ini yang membuat kasus Covid-19 meningkat secara tajam," ujarnya.

Ia juga mengamati pandemi yang berjalan hampir 1,5 tahun terakhir mungkin membuat masyaralat mulai terbiasa mendengar sakit terinfeksi Covid-19. Akibatnya masyarakat mulai kendor menerapkan protokol kesehatan.

Padahal, ia mengingatkan jika sudah terinfeksi maka kerugian luar bisa dialami penderitanya dan berdampak pada fasilitas kesehatan. Sebab jumlah fasilitas kesehatan di Indonesia memiliki keterbatasan.

Oleh karena itu, pemerintah memutuskan memperpanjang pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro untuk mengatasi ledakan kasus. Selain itu, dia menambahkan, pemerintah menargetkan terus memberikan edukasi kepada masyarakat supaya tetap menjalankan protokol kesehatan. Maxi meminta semua pihak barus terlibat, termasuk ulama dan tokoh agama.

"Dua pihak ini punya peran penting untuk menyadarkan masyarakat menerapkan prokes. Kalau masyarakat sadar menerapkan prokes dan semua bersatu maka penularan virus bisa ditekan," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA