Menpora Akui Kurangnya Pembinaan Atlet Sejak Dini

Rep: Binti Sholikah/ Red: Muhammad Fakhruddin

Menpora Akui Kurangnya Pembinaan Atlet Sejak Dini (ilustrasi).
Menpora Akui Kurangnya Pembinaan Atlet Sejak Dini (ilustrasi). | Foto: Prasetia Fauzani/ANTARA

REPUBLIKA.CO.ID,SOLO -- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Zainudin Amali, mengakui merosotnya prestasi Tim Nasional (Timnas) Sepak Bola Indonesia lantaran kurangnya pembinaan terhadap atlet-atlet muda sejak dini. Hal itu diungkapkan saat menjadi penguji dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Ilmu Keolahragaan Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (22/6).

Zainudin Amali menjadi penguji dari luar UNS atas disertasi mahasiswa Program Studi (Prodi) S-3 Ilmu Keolahragaan FKOR UNS, Sulistiyono, yang berjudul "Pengembangan Model Latihan Berbasis Games Experience Learning untuk Mengembangkan Keterampilan dan Karakter pada Siswa Sekolah Sepakbola Umur 9-12 Tahun (Studi Pengembangan pada SSB di Kabupaten Sleman)".

Menpora turut mengundang Wakil Ketua Umum (Waketum) I Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Iwan Budianto dan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Tandiyo Rahayu, untuk hadir dalam ujian terbuka promosi doktor secara daring tersebut.

Usai mendengar pemaparan disertasi dari Sulistiyono sekitar 20 menit, Menpora mengapresiasi hasil penelitian dari latihan games experience learning yang dipaparkan oleh Sulistiyono.

Menpora menyebut, penelitian Sulistiyono dapat dijadikan jawaban dari merosotnya prestasi Tim Nasional (Timnas) Sepak Bola Indonesia dalam kurun waktu 30 tahun terakhir.

"Judul disertasinya ini menarik karena ini menyangkut soal sepak bola. Apa yang disampaikan promovendus bahwa 30 tahun prestasi sepakbola kita belum sesuai harapan atau belum menggembirakan. Karena itu harus diakui secara jujur karena itu fakta," ujar Zainudin Amali seperti tertulis dalam siaran pers.

Menpora mengakui apabila merosotnya prestasi Timnas tidak dapat dilepaskan dari kurangnya pembinaan terhadap atlet-atlet muda sejak usia dini. Hal itu disebabkan karena Indonesia tidak memiliki basis desain yang jelas untuk pembinaan tim.

"Dari hasil survei lembaga internasional, 77 persen masyarakat Indonesia menyukai sepak bola. Oleh karenanya, Bapak Presiden mengeluarkan Inpres Nomor 3 Tahun 2019 untuk mempercepat pembangunan pesepakbolaan," imbuh Zainudin Amali.

Sulistiyono menjadi doktor pertama yang lulus dari Prodi S-3 Ilmu Keolahragaan FKOR UNS. Dia lulus cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,80. Sidang Ujian Terbuka tersebut dipimpin langsung oleh Rektor UNS, Jamal Wiwoho yang bertindak sebagai ketua dewan penguji.

Rektor didampingi oleh Wakil Dekan Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan FKOR UNS, Rony Syaifullah selaku sekretaris, Sugiyanto selaku promotor, Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Pascasarjana UNS, Agus Kristiyanto selaku co-promotor, dan Dekan FKOR UNS, Sapta Kunta selaku co-promotor.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir pula secara daring Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sumaryanto dan Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Nurhasan, yang bertindak selaku penguji dari luar UNS.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Menpora Minta Kepercayaan Publik Terhadap Sepak Bola Dijaga

Menpora Tutup Turnamen Esport Nasional

Selebritis Beli Klub Bola, Ini Respons Menpora

Menpora Sosialisasikan Inpres Terkait Sepak Bola Nasional

IBL Diharapkan Pertahankan Kualitas

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark