Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Rindangnya Wisata Samping Danau di Tengah Teriknya Pamulang

Ahad 20 Jun 2021 07:56 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Wisata Edukasi Ganespa untuk mengembangkan wisata di Situ Ciledug, Tangsel

Wisata Edukasi Ganespa untuk mengembangkan wisata di Situ Ciledug, Tangsel

Foto: Eva Rianti
Pengunjung paling banyak bertandang ke Wisata Edukasi Ganespa pada sore hari

REPUBLIKA.CO.ID, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memiliki potensi wisata alam cukup besar dari hadirnya situ atau telaga yang tersebar di berbagai titik di wilayah tersebut. Meski tidak memiliki gunung ataupun pantai, tak ayal daerah penyangga Ibu Kota tersebut juga patut menjadi kawasan tujuan wisata alam.

Sejumlah aktivis peduli lingkungan di Tangsel kian bermunculan dan melakukan pengembangan terhadap keberadaan situ. Salah satunya seperti yang dilakukan Arizal Maulana yang menjabat sebagai Ketua Pengelola Wisata Edukasi Ganespa untuk mengembangkan kegiatan wisata alam di Situ Ciledug yang berlokasi Jalan Siliwangi, Pamulang, Tangsel.

Dalam mengembangkan potensi Situ Ciledug, Arizal mengatakan telah memulai Wisata Edukasi Ganespa sejak Februari 2021 lalu. Di antaranya dengan menghadirkan taman di bibir situ serta menyajikan kegiatan bertajuk petualangan air.

Dia bercerita, taman yang didirikan di pinggir Situ Ciledug yang sebelumnya merupakan tempat pembuangan sampah liar tersebut memiliki tujuan tidak lain untuk memanfaatkan potensi alam.

“Kami lihat perkembangan masyarakat memanfaatkan garis sempadan yang tidak sesuai. Bahwa selama ini banyak garis sempadan situ yang dibangun bangunan liar, atau bisnis yang tidak menjaga ekosistem, sedangkan perlu adanya keseimbangan alam sehingga kami buat taman,” ujar Arizal saat ditemui Republika di Situ Ciledug beberapa waktu lalu.

Di taman tersebut terdapat banyak jenis tanaman disertai tempat-tempat duduk yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menikmati nuansa alam di sekeliling situ. Arizal turut menyajikan kegiatan wisata edukasi untuk lebih mengenalkan masyarakat dengan tumbuhan atau hewan yang memiliki habitat di Situ Ciledug dan sekitarnya.

Di antara hewan yang bisa dilihat di sekitar situ tersebut mulai dari biawak, ular, hingga burung perkutut. Pengunjung bisa menumpaki perahu untuk berkeliling dan melihat hewan-hewan tersebut yang sesekali menampakkan diri.

Banyak juga pepohonan yang turut menjadi bahan edukasi, salah satunya pohon tirai yang terbilang jarang ada di kawasan telaga. Terdapat pula tanaman jagung, singkong, pepaya, kacang tanah, dan anggur di sekitar situ.

Dengan memerlukan waktu sekitar 30 menit berkeliling di situ, pengunjung bisa mendapatkan banyak pengalaman mengenali berbagai potensi alam yang ada di Situ Ciledug. Di tempat tersebut, pengunjung juga dapat teredukasi dari adanya kegiatan tebar benih ikan hingga budidaya eceng gondok.

Arizal memaparkan, sejumlah hewan di sekitar Situ Ciledug sebelumnya sudah banyak yang punah. Seperti burung-burung perkutut, tupai, dan bangau akibat diburu orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Namun, sejak dibentuk Wisata Edukasi Ganespa, dia memastikan tidak ada lagi pembalakan liar terhadap para hewan di kawasan tersebut.

Arizal bercerita, antusiasme masyarakat atau pengunjung cukup tinggi dari hadirnya Wisata Edukasi Ganespa. Pengunjung bisa datang ke taman kapan saja dan tidak berbiaya. Namun jika menggunakan perahu atau transportasi air lainnya, cukup mengeluarkan biaya Rp 30 ribu.

Dia menyebut, pengunjung paling banyak bertandang ke tempat itu pada sore hari untuk menikmati udara ataupun matahari terbenam. Adapun pada malam hari, suasana semakin ramai dengan iringan live music. Tak ketinggalan, warung-warung yang berderet di seberang taman menyajikan ragam kuliner bagi para pengunjung.

Pungki, salah satu warga yang mengunjungi taman di pinggir Situ Ciledug mengatakan, adanya taman sekaligus kegiatan wisata edukasi alam di Situ Ciledug menjadi inisiasi yang bagus. Sebab, dia menyebut kehadiran situ atau telaga memang perlu dimanfaatkan untuk menciptakan keseimbangan antara lingkungan alam dan sosial.

“Kita mesti merawatnya (situ) karena memberikan keindahan dan dikembangkan menjadi hasil-hasil yang lain,” tutur Pungki.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA