Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Pandemi, Konsumen Lebih Pertimbangkan Harga Saat Belanja

Ahad 20 Jun 2021 06:04 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nora Azizah

Meski loyalitas brand tinggi, konsumen lebih mempertimbangkan harga saat belanja.

Meski loyalitas brand tinggi, konsumen lebih mempertimbangkan harga saat belanja.

Foto: www.freepik.com
Meski loyalitas brand tinggi, konsumen lebih mempertimbangkan harga saat belanja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masa pandemi Covid-19 mengubah cara pandang konsumen dalam belanja atau membeli barang. Berdasarkan survei dari Nielsen Indonesia, 72 persen masih loyal menggunakan merek atau brand yang sama seperti sebelum pandemi.

Survei tersebut dilakukan secara online pada 14 sampai 21 April 2021. Adapun survei dilakukan kepada 345 responden yang tersebar di 11 kota.

Executive Director of Media Nielsen Indonesia Hellen Katherina mengatakan meski loyalitas terhadap merek masih tinggi, tetapi dalam membeli sudah ada perubahan. Menurutnya, sebanyak 51 persen responden mempertimbangkan harga dibanding merek.

“Sebesar 51 persen dari responden bilang 'saya lebih pertimbangkan harga daripada merek saat belanja'. Jadi artinya walaupun pada saat keluar rumah loyalitas brand tinggi, tapi saat ada di tempat belanja kalau disuruh pilih apa ada pilihan yang lebih murah, sekitar setengahnya itu mungkin tidak akan lagi setia terhadap brand,” ujarnya dalam keterangan resmi seperti dikutip Ahad (20/6).

Hellena menilai besarnya keengganan konsumen membeli produk yang lebih mahal karena memang dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian. Menurutnya, konsumen lebih sensitif terkait harga.

“Jadi ada pertimbangan. Kalau ada opsi yang lebih murah mereka menjadi price consciousness,” ucapnya.

Hellena juga mengungkapkan pihaknya menanyakan mengenai kesulitan menemukan barang yang sama seperti yang digunakan sebelum adanya Covid-19. Adapun hasilnya, 21 persen responden mengaku kesulitan.

Hellena mengakui memang masih ada 79 persen responden yang tidak kesulitan mencari barang yang sama. Namun, sebesar 21 persen responden tersebut bisa memunculkan isu mengenai stok barang.

“Walaupun kecil ini berpotensi artinya ada isu pada masalah ketersedian barang yang bisa jadi menyebabkan konsumen akan berpindah ke merek lain,” ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA