Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Uganda Berlakukan Langkah Baru Bendung Amukan Pandemi

Sabtu 19 Jun 2021 16:55 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Uganda tiba-tiba mulai mengalami lonjakan tajam infeksi Covid-19 pada Mei. Ilustrasi.

Uganda tiba-tiba mulai mengalami lonjakan tajam infeksi Covid-19 pada Mei. Ilustrasi.

Foto: AP/Bram Janssen
Uganda tiba-tiba mulai mengalami lonjakan tajam infeksi Covid-19 pada Mei

REPUBLIKA.CO.ID, KAMPALA - Presiden Uganda Yowreri Museveni pada Jumat (18/6) menerapkan langkah-langkah baru mengatasi Covid-19 untuk membantu mengekang gelombang kedua pandemi yang mencengkeram negara itu. Langkah yang diambil termasuk larangan semua pergerakan kendaraan kecuali pekerja penting.

Negara Afrika timur itu, seperti kebanyakan negara Afrika lainnya, relatif tidak terdampak parah oleh gelombang pertama. Namun, Uganda tiba-tiba mulai mengalami lonjakan tajam infeksi Covid-19 pada Mei setelah pihak berwenang mengonfirmasi bahwa mereka telah mendeteksi keberadaan varian virus corona yang pertama ditemukan di India.

Baca Juga

"Negara ini telah mengalami pertumbuhan pandemi Covid-19 yang lebih agresif dan berkelanjutan," kata Museveni dalam pidato yang disiarkan televisi.

Dia mengatakan jumlah harian orang yang dites positif telah melonjak menjadi lebih dari 1.700 kurang dari 100 hanya tiga pekan lalu. "Kita mengalami tingkat rawat inap dan kematian yang sangat tinggi untuk pasien Covid-19 di antara semua kategori usia," ujarnya.

Dalam langkah-langkah baru untuk mengekang pandemi, ia melarang pergerakan kendaraan umum dan pribadi kecuali yang mengangkut pasien dan yang digunakan oleh pekerja penting seperti petugas kesehatan. Jam malam yang dimulai pukul 21.00 dimajukan ke jam 19.00.

Tempat-tempat seperti pusat perbelanjaan yang sibuk, gereja, dan arena olahraga ditutup. Pembatasan baru, kata Museveni, akan berlangsung selama 42 hari.

Hingga saat ini, Uganda telah mendaftarkan total 68.778 kasus Covid-19 dan 542 kematian. Selama dua pekan terakhir, media lokal telah secara ekstensif melaporkan sebagian besar fasilitas kesehatan, baik publik maupun swasta, menjadi penuh dan menolak pasien.

Beberapa fasilitas lainnya memiliki pasokan oksigen yang dikenai pajak. Pembatasan baru dapat merusak pemulihan ekonomi yang rapuh dari pukulan, yang ditimbulkan oleh karantina wilayah tahun lalu.

Pembatasan tersebut berkontribusi pada penyusutan ekonomi 1,1 persen pada 2020. Akan tetapi, kementerian keuangan telah memproyeksikan, sebelum langkah-langkah baru dikeluarkan pada Jumat, bahwa pertumbuhan akan naik menjadi 4,3 persen pada tahun fiskal mulai Juli.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA