Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Akademisi: Komunikasi Risiko Covid Perlu Ditingkatkan

Sabtu 19 Jun 2021 14:32 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah / Red: Bayu Hermawan

Seorang warga menutup wajah saat akan disuntik vaksin Covid-19 (ilustrasi)

Seorang warga menutup wajah saat akan disuntik vaksin Covid-19 (ilustrasi)

Foto: ANTARA/Adiwinata Solihin
Akademisi mengatakan komunikasi risiko Covid-19 perlu didorong di masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Noer Fauzi Rachman mengatakan di dalam penyebaran Covid-19, manusia menjadi pihak yang menularkan dan korban. Terkait hal ini, masyarakat harus diberi pemahaman mengenai komunikasi risiko dan sebab kemungkinan munculnya Covid-19 di antara mereka.

"Sebenarnya, apa yang menyebabkan penularan Covid-19 itu begitu besar antarmanusia? Perlu diketahui, bahwa ada perilaku yang mengabaikan risiko bahwa manusia itu terlibat dalam rantai penularan sebagai korban dan sekaligus sebagai penyebar," kata Fauzi, dalam webinar, Sabtu (19/6).

Baca Juga

Salah satu penyakit yang juga ada di masyarakat hingga saat ini adalah malaria. Namun, penyebar malaria adalah nyamuk. Sementara Covid-19, manusia menjadi penyebar dan diperantarai oleh pengetahuan serta emosi berpikir yang mengabaikan risiko bahwa dirinya bisa menjadi penular atau penderita.

Menurut Fauzi, yang menjadi masalah adalah manusia membuat satu kondisi yang subur untuk penularan itu semakin banyak terjadi. Misalnya, terjadi kesalahpahaman yang disebarkan yakni Covid-19 ini adalah perang. Padahal, lanjut Fauzi, manusia itu sendiri yang menjadi penyebar.

"Apalagi ada kelompok manusia yang disebut dengan orang tanpa gejala. Jadi, dia bisa menularkan dan tidak punya gejala apapun. Dan jumlah mereka cukup besar," kata Fauzi menambahkan.

Selain itu, menurutnya penanganan Covid-19 kurang dipikirkan mengenai dampaknya di jangka panjang. Saat ini, peningkatan kasus Covid-19 terjadi begitu cepat menyebabkan penuhnya rumah sakit dan tenaga medis merasa kewalahan. Akhirnya, tidak lagi memikirkan bagaimana mengatasi Covid-19 dalam jangka panjang.

Fauzi berpendapat, selain mendorong upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19, perlu juga dilakukan pendidikan dan komunikasi risiko. Masyarakat perlu betul-betul memahami bagaimana risiko manusia sebagai penular dan penderita Covid-19. Diharapkan dengan demikian masyarakat tidak akan mengabaikan anjuran pencegahan penularan, termasuk 3M.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA