Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Ini Kata CEO Indodax Soal Kesesuaian Syariah Aset Kripto

Sabtu 19 Jun 2021 14:30 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Fuji Pratiwi

CEO Indodax Oscar Darmawan. Oscar menyebut ada relevansi transaksi syariah dan aset kripto.

CEO Indodax Oscar Darmawan. Oscar menyebut ada relevansi transaksi syariah dan aset kripto.

Foto: https://m.facebook.com/indodax
Harga aset kripto murni ditentukan oleh supply dan demand.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Platform jual beli aset kripto di Indonesia, Indodax, menyebut ada relevansi transaksi syariah dan aset kripto.

Co-Founder dan CEO Indodax Oscar Darmawan mengatakan, transaksi aset kripto tidak mengandung judi, gharar, dan tidak monopoli. "Perdagangan aset kripto memenuhi tiga asas muamalah pertukaran komoditas, yakni kontan, sepadan, dan penguasaan," kata Oscar dalam Bahtsul Masail yang digelar Islamic Law Firm dan Wahid Foundation, Sabtu (19/6).

Oscar mengatakan, aset kripto sama seperti instrumen investasi lainnya seperti saham yang dapat dianalisis secara fundamental. Pelaku pasar bisa masuk ke pasar aset kripto menggunakan analisis yang kuat sehingga bisa menghindari sifat perjudian atau ketidakpastian.

Selain itu, ia menyebut juga aset kripto jauh dari gharar atau ketidakpastian. Aset kripto, seperi Bitcoin ditambang atau dihasilkan dengan program matematis rumit dan membutuhkan biaya atau modal sehingga menjadikannya bernilai.

Hal yang menjadikannya sama dengan emas adalah juga ditambang dan membutuhkan biaya untuk menghasilkannya. Harganya murni ditentukan oleh supply dan demand. "Poin ini yang membuktikan aset jauh dari gharar," kata Oscar.

Selanjutnya, aset kripto tidak monopoli. Bitcoin diciptakan untuk publik, tidak ada satu pun entitas yang dapat memonopoli aset Bitcoin tersebut. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkannya.

Penerbitan aset kripto sendiri dibatasi jumlah tertentu pada kurun waktu tertentu secara algoritma sehingga tidak terjadi inflasi. "Bitcoin, misalnya. Menghasilkan koin 6,25 BTC per 10 menit, hingga maksimum 21 juta BTC," kata Oscar.

Untuk menghasilkan koin itu, perlu modal seperti server dan listrik yang besar. Biaya listrik dan server untuk penerbitan aset kripto ini menjadi dasar nilai underlying asset kripto yang diciptakan.

Oscar mengatakan, koin ini sebenarnya adalah aset digital yang diperlukan untuk menuliskan atau menambahkan data ke jaringan blockchain. Misal untuk Bitcoin yang harganya mahal karena kekuatan listrik yang dipakai untuk menjalankan server ini sama seperti kekuatan listrik yang digunakan di satu negara Malaysia.

Harganya yang mahal itu untuk menjamin keamanan sistem agar tidak diretas. Butuh listrik yang banyak agar data bisa tetap aman. Semakin banyak energi yang digunakan maka semakin susah untuk diretas.

"Bahkan ada server yang disimpan di satelit karena untuk menjaga keamanannya dari, amit-amit, ada perang dunia. Data di server ini jadi aman," kata Oscar.

 

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA