Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Oxford Economics Prediksi PDB RI Naik 4,7 Persen Tahun Ini

Sabtu 19 Jun 2021 07:21 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

Foto: pixabay
Pemulihan ekonomi Indonesia diproyeksi lebih stabil dibandingkan negara ASEAN lainnya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Laporan Economic Insight terbaru dari Oxford Economics dan The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) memperkirakan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan pulih pada 2021 berkat proses vaksinasi yang cepat. PDB Indonesia diprediksi akan kembali meningkat 4,7 persen pada 2021.

Asia Lead Economist di Oxford Economics, Sian Fenner, mengatakan, saat dunia kini memasuki pertengahan kedua tahun 2021, negara kawasan Asia Tenggara terus berusaha bangkit dari dampak pandemi Covid-19. Laporan Economic Insight memperkirakan bahwa pertumbuhan PDB di Indonesia akan kembali stabil dengan dimulainya proses vaksinasi.

Baca Juga

"PDB Indonesia diperkirakan akan tumbuh 4,7 persen pada 2021, bahkan diharapkan bertumbuh lebih signifikan sekitar enam persen pada 2022, setelah sebelumnya mengalami kontraksi sebesar dua persen pada 2020," katanya dalam keterangan, Jumat (19/6).

Sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara (SEA), pemulihan Indonesia diproyeksikan akan lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ini. Ini berkat pengeluaran rumah tangga domestik yang kuat.

Perekonomian Indonesia sangat didukung oleh belanja domestik yang kuat dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara. Sejak Indonesia mulai mengurangi pembatasan diperkirakan akan terjadi peningkatan dalam pengeluaran rumah tangga, pendorong utama pertumbuhan di Indonesia.

Selain itu, Indonesia juga sangat fokus untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur di dalam negeri. Hal itu juga turut mendukung prediksi pertumbuhan PDB pada tingkat 4,7 persen tersebut.

"Peluncuran vaksin dan tantangan perdagangan global akan memengaruhi wilayah Asia Tenggara," katanya.

Laporan Economic Insight menjadi topik utama diskusi di Forum Ekonomi Regional yang diselenggarakan oleh ICAEW. Para pemimpin industri membahas kondisi ekonomi terkini dan pertumbuhan yang diharapkan di kawasan Asia Tenggara.

Managing Director International ICAEW, Mark Billington, mengatakan, dalam Forum tersebut, imbas gelombang kedua kasus Covid melonjak di seluruh Asia Tenggara membuat laju pemulihan selama paruh kedua tahun 2021 akan tertunda. Namun, ini masih berada dalam target di seluruh wilayah Asia Tenggara.

"Kembalinya perekonomian akan bergantung pada akankah diberlakukan kembali pembatasan kegiatan masyarakat, bagaimana kemajuan proses vaksinasi, dan tantangan ekonomi global lainnya yang memengaruhi perdagangan internasional, seperti krisis mikrocip global saat ini," katanya.

Forum tersebut turut menyoroti bahwa proses vaksinasi memainkan peranan penting dalam proses pemulihan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Setiap negara Asia Tenggara saat ini sedang berada dalam fase vaksinasi yang berbeda.

Negara-negara, seperti Indonesia dan Filipina, sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan logistik yang lebih besar untuk mengirimkan vaksin ke seluruh masyarakat. Terlepas dari tantangan tersebut, laporan Economic Insight memperkirakan bahwa percepatan pemberian vaksinasi di wilayah Asia Tenggara akan dimulai dari Juni.

Peningkatan infeksi dan pembatasan kegiatan masyarakat ketat yang diberlakukan di beberapa negara Asia Tenggara diperkirakan akan menghambat proses pemulihan yang diperkirakan akan dimulai pada paruh pertama tahun 2021. Pertumbuhan perlahan akan meningkat di paruh kedua.

Namun, munculnya jenis virus baru yang lebih ganas dan kecepatan vaksinasi yang lambat akan mengakibatkan pertumbuhan yang cenderung fluktuatif. Kesenjangan output yang cukup besar, tingginya Indeks Harga Konsumen untuk barang non-tradable di Asia, dan kemampuan pemerintah untuk mengelola harga juga bisa mengakibatkan kembalinya tingkat inflasi yang lebih lambat.

Selain itu, pemulihan ekonomi global juga akan bergantung pada berlanjutnya penyebaran virus dan masih adanya pembatasan antar negara dan perbatasan. Jika efektivitas vaksin terbukti terbatas, ekonomi global dapat berkontraksi dalam waktu dekat.

SEA Regional Economic Forum dihadiri oleh Tamu Kehormatan Emily Hamblin, HM Consul General, and Country Director Vietnam & Deputy Regional Director, SE Asia British Consulate-General, HCMC. Diskusi panel juga termasuk Geoff Howie, Market Strategist Singapore Exchange, Warrick Cleine CA CPA, Chairman and CEO KPMG Vietnam, and Cambodia, bersama dengan Sian Fenner, Asia Lead Economist, Oxford Economics. Diskusi ini juga dimoderasi oleh Kon Yin Tong FCA, President, Institute of Singapore Chartered Accountants.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA