Tuesday, 25 Rabiul Akhir 1443 / 30 November 2021

Tuesday, 25 Rabiul Akhir 1443 / 30 November 2021

AstraZeneca Disebut Efektif untuk Varian Delta

Kamis 17 Jun 2021 14:07 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Seorang pekerja medis mempersiapkan suntikan vaksin AstraZeneca untuk COVID-19 selama vaksinasi massal untuk pekerja ritel di sebuah stadion di Jakarta, Indonesia, Selasa, 15 Juni 2021.

Seorang pekerja medis mempersiapkan suntikan vaksin AstraZeneca untuk COVID-19 selama vaksinasi massal untuk pekerja ritel di sebuah stadion di Jakarta, Indonesia, Selasa, 15 Juni 2021.

Foto: AP/Dita Alangkara
Bukan berarti mendapatkan vaksin berarti sudah kebal 100 persen dari penyakit

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Virus corona varian Delta atau B1617.2 bisa dihadapi secara efektif dengan merek vaksin Covid-19 yang akhir-akhir ini digunakan di Indonesia.

Vaksinolog dan spesialis penyakit dalam dr Dirga Sakti Rambe dalam webinar kesehatan, Kamis (17/6) menjelaskan, program vaksinasi untuk umum berusia di atas 18 tahun menggunakan vaksin merek AstraZeneca, namun orang-orang yang sudah mendapat dosis pertama dengan merek lain pada April atau Mei akan diberikan vaksin merek sama ketika mendapatkan dosis kedua.

"Ada tiga merek vaksin di Indonesia, merek yang akhir-akhir ini digunakan efektif terhadap varian Delta. Merek vaksin awal yang digunakan di Indonesia belum ada laporan (efektivitas terhadap varian Delta)," kata anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dia menegaskan, vaksin Covid-19 di Indonesia efektif dalam mencegah seseorang mengalami gejala-gejala sakit berat ketika terinfeksi virus, tapi bukan berarti mendapatkan vaksin berarti sudah kebal 100 persen dari penyakit. Semua orang yang sudah divaksin masih bisa terkena Covid-19 atau menularkan virus, namun karena sudah memiliki antibodi, penyakit yang dialami tidak berat.

"Beberapa mutasi menunjukkan vaksin jadi kurang efektif, tapi secara umum masih efektif. Tugas kita untuk mencegah virus bermutasi adalah menekan penularan, agar penularannya terhenti," kata dia.

Dirga mengingatkan, vaksinasi tidak boleh membuat orang-orang menjadi lengah. Protokol kesehatan dan prinsip 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak tetap harus dipatuhi."Tidak ada vaksin yang 100 persen efektif, bukan berarti divaksin lalu bebas kumpul-kumpul," jelas dia.

Otoritas terkait masih menelusuri asal mula kemunculan varian Delta (B 1617.2) yang banyak ditemukan di daerah Kudus, Jawa Tengah dan Bangkalan, Jawa Timur. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam keterangan resmi, Rabu (16/6), menjelaskan, untuk memetakan persebaran virus ini, penelitian masih dilakukan melalui metode Whole Genome Sequencing (WGS) atau surveilans meski belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Varian baru dari suatu virus muncul karena upaya virus untuk bertahan hidup. Proses mutasinya akan berlangsung terus-menerus apabila potensi penularan tersedia.Oleh karena itu, jika penularan masih terus berlangsung di tengah-tengah masyarakat, maka peluang virus untuk bermutasi masih ada. Agar tercipta kekebalan komunal di Indonesia, sebanyak 181,5 juta rakyat harus mendapatkan vaksin COVID-19 atau 70 persen dari total penduduk.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA