Kamis 17 Jun 2021 10:48 WIB

Ternak Kerbau Masih Jadi Andalan Ekonomi Warga Lebak

Populasi kerbau di Kabupaten Lebak, Banten 19 ribu ekor, dan swasembada daging.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Petani mengembala kerbau mencari rumput (lustrasi).
Foto: ANTARA/Adeng Bustomi
Petani mengembala kerbau mencari rumput (lustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK -- Peternakan kerbau di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten hingga kini masih menjadikan andalan pendapatan ekonomi masyarakat. "Ekonomi keluarga sangat terbantu dengan mengembangkan ternak kerbau itu," kata Sapri (55 tahun), peternak asal Curugbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (17/6).

Pengembangan ternak kerbau yang dilakukan masyarakat di sini masih dikelola secara tradisional. Para peternak kerbau itu kebanyakan mengembalakan ternaknya di tanah lapang yang banyak rerumputan.

"Kami sendiri setiap hari melepaskan ternak hewan besar di tanah lapang karena terdapat pakan rerumputan hijau itu," kata Sapri menjelaskan. Menurut dia, usaha pengembangan ternak kerbau itu cukup membantu ekonomi keluarga.

Pasalnya, ia setiap tahun bisa menjual antara tiga sampai empat ekor. Penjualan kerbau bisa menghasilkan pendapatan ekonomi Rp 60 sampai Rp 70 juta per tahun.

"Kami bisa memperbaiki rumah dan menyekolahkan anak hingga Perguruan Tinggi dari hasil usaha ternak kerbau," kata Sapri sambil menyatakan kini kerbau miliknya tinggal 13 ekor.

Begitu juga Subur (60), warga Rangkasbitung, Kabupaten Lebak mengaku, mengembangkan usaha kerbau sudah 40 tahun. Hingga kini, aktivitas itu masih menjadikan andalan ekonomi keluarga.

Pengembangan usaha ternak kerbau di Lebak kebanyakan dari peninggalan orang tua. Menurut Subur, sebab wilayahnya terdapat perkebunan kelapa sawit sehingga tumbuh rerumputan yang hijau untuk dijadikan pakan ternak kerbau.

Setiap hari, ratusan ekor kerbau dilepas di lahan perkebunan untuk memanfaatkan rerumputan itu. Selama ini, kata dia, warga yang berada sekitar perkebunan kelapa sawit masih menjadikan andalan ekonomi dari usaha ternak kerbau itu. "Kami setiap tahun bisa menjual kerbau lima ekor dengan penghasilan Rp 90 juta, " kata Subur.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lebak, Rahmat mengatakan, pemerintah daerah terus meningkatkan populasi kerbau dengan rekayasa teknologi inseminasi buatan (IB) dengan membuka posko pelayanan di sejumlah kecamatan. Saat ini, kata dia, jumlah populasi kerbau sekitar 19 ribu ekor.

Dapat dikategorikan, Lebak sudah masuk kategori swasembada daging. Bahkan, kebutuhan untuk hewan kurban bisa dipasok ke luar daerah, seperti Tangerang, Jakarta, dan Bogor. Ternak yang dikembangkan masyarakat jenis kerbau lumpur yang berat badannya bisa mencapai 500-600 kilogram.

Sedangkan harga jualnya di kisaran Rp 15 juta-Rp 25 juta per ekor. Hanya saja, teknik budidaya kerbau yang ada di masyarakat sangat tradisional dan perlu adanya peningkatan sumber daya peternak.

"Kami ke depan akan mengembangkan teknik budidaya peternakan kerbau sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan warga," kata Rahmat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement