Kasus Covid di Garut Sudah Banyak Ditemukan di Perkampungan

Red: Andri Saubani

Pasien Covid-19 di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, diantarkan petugas menggunakan sepeda motor, Rabu (9/6). Pasien menolak diantar dari puskesmas ke rumah menggunakan ambulans karena dinilai akan membuat lingkungannya gaduh.
Pasien Covid-19 di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, diantarkan petugas menggunakan sepeda motor, Rabu (9/6). Pasien menolak diantar dari puskesmas ke rumah menggunakan ambulans karena dinilai akan membuat lingkungannya gaduh. | Foto: Kades Cisewu

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Bupati Garut Rudy Gunawan menyatakan, penularan wabah Covid-19 sudah mulai banyak ditemukan di perkampungan warga di wilayah selatan Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ia pun meminta warganya untuk waspada dengan tetap mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

"Sekarang itu justru terjadi di kampung-kampung, di selatan saja sekarang ini diperkirakan di Garut selatan ada 400 yang terkonfirmasi positif Covid-19 dari beberapa hari kemarin," kata Rudy Gunawan kepada wartawan di Garut, Rabu (16/6).

Baca Juga

Rudy menuturkan, Pemkab Garut terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menangani wabah Covid-19 yang saat ini terus terjadi peningkatan sejak musim libur hari raya. Kabupaten Garut, kata dia, hasil penilaian pemerintah provinsi masuk tiga besar sebagai daerah dengan kasus aktif paling tinggi di Jawa Barat, salah satu penyebabnya dengan adanya temuan baru sebanyak 400-an orang di klaster perkampungan.

"Yang membawa dampak (besar) Garut itu ya 400 itu, sehingga Garut masuk tiga besar sebagai daerah yang kasus aktifnya paling tinggi," katanya.

Menurut dia, lonjakan kasus penularan wabah Covid-19 disebabkan berbagai faktor. Salah satunya acara pesta pernikahan yang tidak dapat dikendalikan dan sulit menegakkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus.

"Kasus aktif terbesar ada di daerah selatan, masuk klaster kampung karena semenjak ada hajatan," katanya.

Ia mengungkapkan, cepatnya penularan Covid-19 di perkampungan itu karena banyak warga yang menunjukkan gejala sakit tidak melakukan pemeriksaan ke rumah sakit atau dokter terdekat. Akibatnya, kata dia, warga yang sebenarnya mengalami gejala terjangkit wabah Covid-19 tidak mendapatkan pertolongan medis dengan cepat sehingga kondisinya parah dan sampai meninggal dunia.

"Masyarakat yang mengalami gangguan penciuman itu tidak melapor, jika sudah keadaan panas dingin baru ke Puskesmas, itu sudah dalam kondisi fase dua, jadi banyak yang meninggal di Garut karena mereka itu tidak pernah melapor," katanya.

Secara keseluruhan sejak ditetapkan darurat wabah Covid-19 hingga Selasa (15/6) kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Garut sebanyak 13.171 kasus, dari kasus itu sebanyak 2.341 kasus isolasi mandiri, 578 kasus isolasi di rumah sakit, 9.667 kasus dinyatakan sembuh, dan 585 kasus meninggal dunia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


50 Warga di Lingkungan Sidomulyo Terpapar Covid

Tolak Lockdown, Satgas: PPKM Mikro Formula Paling Tepat

Akankah Mobilitas Masyarakat Kembali Dibatasi Secara Ketat?

Mengapa Sebagian Orang Rasakan Efek Samping Vaksin Covid-19?

Peneliti Temukan Bukti Virus Corona Muncul di AS pada 2019

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image