Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Abdul Fattah al-Sisi Undang Emir Qatar ke Mesir

Rabu 16 Jun 2021 17:43 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Mesir Jenderal Abdel Fatah al-Sisi.

Presiden Mesir Jenderal Abdel Fatah al-Sisi.

Foto: Reuters
Mesir adalah salah satu negara Teluk yang sempat mengembargo Qatar

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi mengundang Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani untuk mengunjungi negaranya. Mesir adalah salah satu negara Teluk yang sempat mengembargo Qatar pada 2017 hingga awal Januari lalu.

"Emir bertemu dengan Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry dan menerima pesan tertulis dari saudaranya, Presiden Mesir, terkait dengan dukungan hubungan antara kedua negara serta cara memperkuat dan mengembangkannya," tulis Qatar News Agency dalam laporannya pada Selasa (15/6).

Shoukry tiba di Doha pada Ahad (13/6) malam. Itu merupakan kunjungan resmi pertama sejak musim panas 2013. Kala itu hubungan kedua negara terputus karena Doha menolak penggulingan mantan presiden Mesir yang kini telah meninggal, Mohamed Mursi.

Dalam pertemuan dengan Sheikh Tamim, Shoukry turut menyampaikan undangan Sisi untuk sebisa mungkin mengunjungi Kairo. Pada 4 Januari lalu Arab Saudi setuju mencabut blokadenya terhadap Qatar. Hal itu diumumkan menjelang perhelatan KTT GCC ke-41 yang digelar di AlUla, Saudi. Sheikh Tamim turut berpartisipasi dalam KTT tersebut.

Langkah Saudi mencabut blokade terhadap Qatar diikuti oleh tiga negara lainnya, yakni Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Pada Juni 2017, keempat negara tersebut mengembargo dan memblokade Qatar. Langkah itu diambil karena mereka meyakini Doha mendukung kegiatan terorisme dan ekstremisme di kawasan. Qatar dengan tegas membantah tuduhan tersebut.

Kendati telah menyanggah, Saudi, Mesir, Bahrain, dan UEA tetap memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Keempat negara itu kemudian memboikot dan memblokade seluruh akses ke Doha. Saudi serta sekutunya lalu mengajukan 12 tuntutan kepada Qatar.

Tuntutan itu antara lain meminta Qatar menurunkan hubungan diplomatik dengan Iran dan menutup media Aljazirah. Doha juga diminta menutup pangkalan militer Turki di negaranya. Jika menginginkan boikot dan blokade dicabut, Qatar harus memenuhi semua tuntutan tersebut. Namun Qatar menolak melakukannya karena menganggap semua tuntutan tak masuk akal. Akibat sikap tersebut, Qatar terkucil selama sekitar 3,5 tahun.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA