Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

China Tuding NATO Terapkan Standar Ganda

Rabu 16 Jun 2021 17:23 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Bendera China.

Bendera China.

Foto: ABC News
China menanggapi komike KTT NATO yang menyoroti perkembangan militer negaranya

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Pemerintah China menuding Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menerapkan standar ganda. Hal itu terkait komunike KTT NATO yang menyoroti perkembangan militer Negeri Tirai Bambu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan, dalam KTT terbarunya, NATO mendesak negara-negara anggotanya untuk meningkatkan pengeluaran militer. Namun di sisi lain, NATO melayangkan tudingan tak berdasar terhadap perkembangan normal pertahanan nasional dan modernisasi milliter China. “Ini standar ganda yang khas,” kata Zhao dalam konferensi pers pada Selasa (15/6), dikutip laman People’s Daily.

Baca Juga

 

Dia mengungkapkan pengeluaran militer per kapita China kurang dari seperlima NATO. Angkanya pun lebih rendah dari rata-rata global. Zhao pun mengomentari isi komunike KTT NATO yang menyebut China menimbulkan tantangan sistemik bagi dunia.

Dia menegaskan, Beijing tak menjadi ancaman bagi siapa pun. Zhao menjelaskan, hanya ada satu sistem dan satu jenis tatanan di dunia. Sistem internasional berpusat pada PBB, sedangkan tatanan internasional bersandar pada hukum internasional.

 

"Membentuk klik, mempraktikkan politik blok, dan memaksa negara lain untuk memihak antara kubu berdasarkan ideologi bertentangan dengan tren historis perdamaian, pembangunan, dan kerja sama. Itu pasti akan menjadi tidak populer dan pasti akan gagal," kata Zhao.

 

Dia menyebut NATO, dalam banyak kesempatan, membawa perang dan pergolakan ke dunia. Dalam hal ini Zhao mengutip contoh perang yang dilancarkan terhadap Irak, Suriah, dan negara-negara berdaulat lainnya berdasarkan bukti palsu.

"Kami tidak akan pernah melupakan tragedi sejarah pengeboman kedutaan besar China di Yugoslavia. Ini adalah utang darah NATO kepada rakyat China," ujar Zhao. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA