Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Obesitas Tetapi Sehat, Mungkinkah?

Rabu 16 Jun 2021 01:41 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pria kegemukan (obesitas). Obesitas telah menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada lebih dari 1,9 miliar orang dewasa berusia di atas 18 tahun yang kegemukan di dunia per 2016. Sekitar lebih dari 650 juta di antaranya merupakan orang dewasa yang obesitas.

Pria kegemukan (obesitas). Obesitas telah menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada lebih dari 1,9 miliar orang dewasa berusia di atas 18 tahun yang kegemukan di dunia per 2016. Sekitar lebih dari 650 juta di antaranya merupakan orang dewasa yang obesitas.

Foto: Reuters
Obesitas masih dianggap sehat bila memenuhi enam indikator

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagian penyandang obesitas memiliki kondisi yang tampak sehat. Meski begitu, bukan berarti mereka terbebas dari risiko masalah kesehatan di masa depan.

Obesitas telah menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada lebih dari 1,9 miliar orang dewasa berusia di atas 18 tahun yang kegemukan di dunia per 2016. Sekitar lebih dari 650 juta di antaranya merupakan orang dewasa yang obesitas.

Secara umum, obesitas diketahui dapat meningkatkan risiko beragam masalah kesehatan. Sebagian dari risiko tersebut adalah penyakit kardiovaskular dan beberapa jenis kanker.

Sebagian penyandang obesitas diketahui memiliki profil metabolik yang sehat. Kondisi ini dikenal sebagai obesitas yang sehat secara metabolik atau metabolically healthy obesity (MHO).

Penyandang obesitas bisa dikategorikan sebagai MHO bila memiliki kadar yang normal pada empat dari enam indikator. Keenam indikator tersebut adalah tekanan darah, protein C-reaktif, triasilgliserol, kolesterol low-density lipoprotein (LDL), kolesterol HDL, dan hemoglobin A1C.

Studi terbaru dalam jurnal Diabetologia berupaya untuk mengetahui risiko kesehatan yang dimiliki oleh para penyandang obesitas "sehat" ini. Ada lebih dari 381 ribu orang yang berpartisipasi dalam studi ini. Para partisipan lalu dipantau dengan durasi rata-rata selama 11,2 tahun.

Hasil studi menunjukkan bahwa individu dengan MHO memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap beberapa penyakit dibandingkan dengan individu non obesitas yang sehat secara metabolik. Beberapa penyakit tersebut adalah diabetes, penyakit kardiovaskular, dan penyakit pernapasan. Individu dengan MHO juga memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kematian akibat semua penyebab.

Seperti dilansir Medical News Today, peningkatan risiko diabetes tipe 2 pada individu dengan MHO mencapai 4,3 kali lipat lebih besar. Risiko serangan jantung atau strok pada kelompok ini juga meningkat lebih dari 18 persen.

Selain itu, risiko gagal jantung pada individu dengan MHO mengalami peningkatan menjadi 76 persen lebih besar. Begitu juga dengan risiko penyakit pernapasan dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) meningkat menjadi 28 persen lebih tinggi dan 19 persen lebih tinggi.

Akan tetapi, risiko paling tinggi terhadap semua masalah kesehatan dimiliki oleh penyandang obesitas yang tidak sehat secara metabolik. Di urutas terbesar kedua adalah kelompok non obesitas yang tidak sehat secara metabolik. Di urutan selanjutnya, baru ditempati oleh individu dengan MHO. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA