Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Sering atau Jarang BAB, Mana Lebih Sehat? Ini Penjelasannya

Selasa 15 Jun 2021 15:41 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Nora Azizah

Feses menjadi petunjuk kesehatan tak hanya usus tapi juga tubuh secara keseluruhan.

Feses menjadi petunjuk kesehatan tak hanya usus tapi juga tubuh secara keseluruhan.

Foto: fitnesshealthpros.com
Feses menjadi petunjuk kesehatan tak hanya usus tapi juga tubuh secara keseluruhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada banyak hal yang bisa diamati dari kotoran terkait kesehatan. Hal itu termasuk frekuensi, tekstur, dan warna feses, semuanya memberikan petunjuk tentang kesehatan.

Baru-baru ini, perusahaan kesehatan usus Zoe menerbitkan sebuah studi ilmiah dalam jurnal peer-review Gut  tentang waktu transit usus, istilah yang mengacu pada berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang membuang kotoran setelah makan. Hal ini dapat secara khusus memberi tahu seseorang tidak hanya kesehatan usus tetapi juga kesehatan tubuhnya secara umum.

Baca Juga

Dalam studi tersebut, para peneliti melacak waktu transit usus peserta dengan cara meminta mereka makan muffin yang diwarnai dengan warna biru Cookie Monster. Dengan cara ini, kotoran mereka akan menjadi biru. Para peserta akan mengetahui bahwa kotoran mereka secara khusus berasal dari muffin dan bukan sesuatu yang lain yang mereka makan. 

“Kami menemukan bahwa dengan memakan muffin biru cerah, yang dikembangkan oleh para ilmuwan kami, kami dapat menghasilkan gambaran dasar kesehatan usus berdasarkan waktu transit usus,” ujar pernyataan dari humas perusahaan tersebut seperti dilansir dari laman Well and Good, Selasa (15/6).

Sabine Hazan, MD, penulis Let's Talk Sh!t dan pakar kesehatan usus menjelaskan, waktu transit usus sangat penting. Pasalnya, bukan hanya mikroba itu sendiri yang penting, tetapi juga kemampuan untuk memindahkan mikroba.

"Jika usus besar stagnan, bakteri jahat akan menumpuk,” ujarnya.

Profesor ilmu nutrisi Sarah Berry, PhD, dan profesor epidemiologi genetik Tim Spector, MD juga menjelaskan mengapa waktu transit usus itu penting dan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Hanya saja, Dr Spector menjelaskan, pentingnya waktu transit usus belum benar-benar diakui sampai saat ini.

“Kami ingin melihat apakah kami bisa mendapatkan ukuran yang akan memberi orang informasi yang lebih baik tentang mikroba dan kesehatan mereka secara keseluruhan,” katanya. 

 

Dari 863 orang yang mengambil bagian dalam penelitian ini, waktu transit usus berkisar antara empat jam hingga beberapa hari.

“Apa yang kami lihat rata-rata adalah korelasi antara waktu transit yang lebih cepat dan mikrobioma usus yang tampak lebih sehat,” kata Dr Spector. 

Menurutnya keragaman bakteri usus baik lebih tinggi pada orang yang memiliki waktu transit singkat. Sementara, keragaman lebih rendah pada orang yang memiliki waktu transit lama. 

Mikrobioma dengan beragam bakteri usus baik tidak hanya menunjukkan kesehatan pencernaan tetapi juga tingkat kesehatan keseluruhan yang lebih baik. Hal ini termasuk kesehatan otak dan tingkat depresi yang lebih rendah.

Studi transit usus sebelumnya menunjukkan bahwa waktu paling sehat jatuh antara 14 dan 50 jam. Namun, berdasarkan dari yang ditemukan dalam studi ini, waktu transit usus kurang dari 24 jam seharusnya ideal. 

"Hanya karena Anda tidak buang air besar setiap hari bukan berarti ada yang salah dengan Anda," katanya. 

"Jika Anda hanya buang air besar setiap dua hari tapi merasa baik secara keseluruhan tanpa kembung atau ketidaknyamanan, itu tidak perlu dikhawatirkan. Menurut saya, konsistensi lebih penting,” katanya. 

Jika seseorang terbiasa buang air besar sekali sehari tapi kemudian mulai mengalami diare beberapa kali sehari atau mulai hanya buang air besar setiap beberapa hari, hal itu yang harus diperhatikan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA