Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Digambarkan Sebagai Teroris, Pria Prancis Tuntut Netflix

Selasa 15 Jun 2021 13:31 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi menonton Netflix

Ilustrasi menonton Netflix

Foto: Pixabay
Netflix dituntut karena diskriminasi rasial.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Seorang pria Prancis asal Afrika Utara menuding Netflix melakukan diskriminasi rasial. Dia mengatakan Netflix melabeli dirinya sebagai seorang Islam radikal dalam sebuah film aksi di mana dia direkam tanpa sepengetahuannya.

Film thriller berjudul Sentinelle berlatar di selatan kota Nice. Film ini menceritakan kisah seorang tentara elite Prancis yang kembali dari dinas di Suriah. Film Sentinelle diambil pada 2019 dan mulai streaming di Netflix pada Maret lalu.

Baca Juga

Ia memulai misi untuk menemukan pria yang memperkosa saudara perempuannya. Satu adegan menunjukkan tokoh protagonis, Klara, melihat melalui bidikan senapannya pada dua pemuda yang berteman sedang mengucapkan selamat tinggal pada satu sama lain.

Adegan itu diambil di Promenade des Anglais, jalan tepi pantai di mana seorang radikal Tunisia menabrak 86 orang dengan sebuah truk pada 14 Juli 2016. Teks bahasa Prancis yang disediakan Netflix untuk menggambarkan adegan bagi orang yang mengalami gangguan pendengaran mengacu dua pria tersebut sebagai "barbus" muda. Barbus merupakan istilah yang menghina untuk pria Muslim ultrakonservatif yang berarti "yang berjanggut".

Salah satu pria tersebut adalah seorang tukang listrik berusia 21 tahun dari Nice. Ia mengajukan tuntutan pidana terhadap Netflix atas deskripsi tersebut.

Pengacaranya, Jean-Pascal Padovani, mengatakan pria tersebut menuduh perusahaan Netflix memprovokasi diskriminasi dan kebencian rasial. "Sutradara mengambil kesimpulan dari fitur orang Afrika Utara yang dia filmkan dan fundamentalis agama," kata Padovani, dilansir di France 24, Selasa (15/6).

Selain itu, sang pengacara mengatakan penembakan di film tersebut dilakukan di tempat salah satu serangan teror terburuk dalam sejarah Prancis. Hal ini menjadikan adegan lebih sugestif.

"Ini tidak dapat diterima karena menunjukkan siapa pun yang berasal dari Afrika Utara berpotensi menjadi teroris," kata Padovani.

Padovani mengatakan kliennya menerima lebih dari 80 pesan dari kenalan yang mengenalinya dalam film. Beberapa temannya menyatakan terkejut melihat dia digambarkan sebagai teroris.

Menurutnya, pelapor juga mempertimbangkan menuntut Netflix karena menggunakan gambarnya untuk tujuan komersial tanpa izinnya. Seorang juru bicara Netflix, yang menjadi sasaran pengaduan sebagai penyiar film tersebut enggan berkomentar tentang masalah tersebut ketika dihubungi.

Namun, Netflix telah menghapus istilah "barbus" dari deskripsi audionya di film tersebut. Film Sentinelle disutradarai oleh pembuat film Prancis Julien Leclercq.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA