Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Varian Delta dan Fakta Mengapa Kita Harus Lebih Waspada

Senin 14 Jun 2021 18:42 WIB

Red: Andri Saubani

Pasien Covid-19 tanpa gejala turun dari bus sekolah setibanya di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Senin (14/6). DKI Jakarta menjadi salah satu daerah yang mengalami peningkatan kasus Covid-19 paling besar dalam sepuluh hari terakhir dengan peningkatan sebesar 302 persen. Republika/Putra M. Akbar

Pasien Covid-19 tanpa gejala turun dari bus sekolah setibanya di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Senin (14/6). DKI Jakarta menjadi salah satu daerah yang mengalami peningkatan kasus Covid-19 paling besar dalam sepuluh hari terakhir dengan peningkatan sebesar 302 persen. Republika/Putra M. Akbar

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Menkes hari ini mengonfirmasi varian Delta ditemukan di DKI, Kudus, dan Bangkalan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dessy Suciati Saputri, Rr Laeny Sulistyawati, Haura Hafizhah, Rizky Jaramaya, Shelbi Asrianti, Dea Alvi Soraya

Pemerintah melalui Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin akhirnya mengonfirmasi bahwa varian virus corona B.1.617.2 atau Delta yang pertama kali ditemukan di India menjadi penyebab terjadinya lonjakan kasus di sejumlah daerah di Indonesia, seperti di Kudus, DKI Jakarta, dan juga Bangkalan. Masyarakat pun diminta untuk lebih waspada.

Baca Juga

“Kami sedikit menambahkan, melaporkan juga ke beliau (Presiden Jokowi) kenapa ini penting, karena beberapa daerah seperti Kudus, DKI Jakarta, dan juga Bangkalan memang sudah terkonfirmasi varian Delta-nya atau B1617.2 atau juga varian dari India mendominasi,” ujar Menkes saat konferensi pers di Kantor Presiden, Senin (14/6).

Menurut Budi, varian Delta ini lebih cepat dibandingkan varian lainnya. Meskipun demikian, varian ini tak lebih mematikan. Karena itu, Presiden Jokowi menginstruksikan agar implementasi penerapan protokol kesehatan di lapangan lebih diperketat lagi serta mempercepat pelaksanaan program vaksinasi.

“Bapak Presiden menekankan sekali lagi bahwa protokol kesehatan harus dijalankan dengan disiplin sesuai dengan aturan PPKM mikro yang sudah ada,” kata Budi.

Menkes mengatakan, selama ini pemerintah telah menyusun aturan penerapan protokol kesehatan di berbagai zonasi baik daerah zona merah, oranye, maupun kuning. Namun, disiplin atas implementasinya di lapangan dinilai masih kurang.

Presiden Jokowi pun menginstruksikan Panglima TNI dan juga Kapolri agar memastikan pelaksanaan prokes di lapangan sesuai dengan aturan yang telah disusun dalam kebijakan PPKM mikro. Selain itu, banyaknya klaster keluarga yang terpapar Covid-19 saat ini disebabkan oleh aktivitas mudik, pariwisata, dan juga kegiatan makan bersama.

“Sehingga beliau meminta agar ketiga aktivitas di mana kesempatan untuk membuka maskernya tinggi, ini benar-benar diperhatikan. Dan sekali lagi implementasi di lapangannya diperketat untuk kegiatan-kegiatan seperti liburan panjang, kegiatan-kegiatan pariwisata yang berkerumun, dan juga kegiatan-kegiatan makan bersama,” jelasnya.

Melonjaknya kasus Covid-19 di Tanah Air akhir-akhir ini membuat pemerintah memutuskan kembali memperpanjang pelaksanaan PPKM skala mikro. Pelaksanaan PPKM Mikro jilid 10 dilaksanakan terhitung mulai 14 Juni 2021 hingga dua pekan mendatang.

"PPKM mikro tetap diperpanjang sampai 2 pekan ke depan," kata Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Brigjen TNI (Purn) Alexander K Ginting S saat dihubungi Republika, Senin (14/6).

Artinya, dia menambahkan, PPKM skala mikro diperpanjang hingga 28 Juni. Ia menambahkan, PPKM mikro tetap diterapkan di 34 provinsi.

Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban mengatakan, saat ini kondisi Indonesia sedang berada dalam tahap awal gelombang varian baru Covid-19 yaitu B1617.2 atau varian Delta asal India. Sehingga, ia meminta pemerintah segera menangani hal ini.

"Saya harus katakan. Kami ini berada dalam cengkeraman tahap awal gelombang varian Delta. Bahkan, situasi Jakarta sedang genting. Ini memang benar. Apalagi masih ada jutaan manusia Indonesia yang belum terlindungi vaksin. Ini bisa jadi bencana bagi mereka," katanya dalam cuitan di akun Twitter miliknya, Senin (14/6).

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA