Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

PB IDI: Kondisi Indonesia Dalam Tahap Awal Varian Delta

Selasa 15 Jun 2021 00:35 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Agus Yulianto

Ilustrasi Kasus Covid-19 Naik

Ilustrasi Kasus Covid-19 Naik

Foto: republika/mardiah
Tren penambahan kasus Covid-19 harian di Indonesia terus menanjak. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban mengatakan, saat ini, kondisi Indonesia sedang berada dalam tahap awal gelombang varian baru Covid-19 yaitu B1617.2 atau varian delta asal India. Pemerintah pun diminta segera menangani hal ini.

"Saya harus katakan. Kami ini berada dalam cengkeraman tahap awal gelombang varian delta. Bahkan, situasi Jakarta sedang genting. Ini memang benar. Apalagi masih ada jutaan manusia Indonesia yang belum terlindungi vaksin. Ini bisa jadi bencana bagi mereka," katanya dalam cuitan di akun Twitter miliknya, Senin (14/6).

Sebelumnya diketahui, tren penambahan kasus Covid-19 harian di Indonesia terus menanjak. Peningkatannya jelas terlihat sejak pasca-Lebaran hingga hari ini. Bahkan, jumlah kasus baru pada Kamis (10/6) kemarin mencapai 8.892 orang, tertinggi sejak Februari 2021 atau nyaris empat bulan berselang. Sementara, pada Jumat (11/6) ini dilaporkan ada 8.083 kasus baru. 

Dalam beberapa kali kesempatan, pemerintah menyebutkan bahwa lonjakan kasus ini disebabkan peningkatan mobilitas warga selama libur Lebaran lalu. Kerumunan yang muncul saat tradisi keagamaan, seperti ziarah, juga ikut menyumbang kenaikan kasus. 

Namun, muncul kekhawatiran bahwa kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia juga didukung oleh masuknya varian virus corona B.1.617.2 atau yang akrab disebut varian Delta. Varian virus inilah yang membuat ledakan kasus Covid-19 di India dalam beberapa bulan terakhir. 

Apakah benar varian Delta ikut berkontribusi dalam kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia?

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, tren kenaikan kasus harian yang terjadi dalam dua pekan terakhir bisa dipastikan akibat tingginya mobilitas dan potensi kerumunan warga saat libur Lebaran lalu, juga saat Ramadhan. 

"Tahun lalu juga seperti itu. Mengenai varian-varian baru yang sudah ditemukan di berbagai daerah, sampai saat ini penelitiannya belum bisa buktikan bahwa ada hubungan langsung peningkatan kasus disebabkan varian baru," ujar Wiku dalam keterangan pers, Jumat (11/6). 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA