Sabtu 12 Jun 2021 17:34 WIB

PHRI DIY Tunggu Pelaksanaan Wacana Work From Jogja

PHRi berharap Work From Jogja tidak hanya sekadar wacana tanpa realisasi.

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Petugas membersihkan ruangan di Hotel Grand Inna Malioboro,  Yogyakarta. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menyambut baik wacana penerapan program Work From Jogja. Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan, pihaknya sudah siap untuk berkolaborasi dengan Pemda DIY untuk menjalankan program tersebut.
Foto: Wihdan Hidayat/ Republika
Petugas membersihkan ruangan di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menyambut baik wacana penerapan program Work From Jogja. Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan, pihaknya sudah siap untuk berkolaborasi dengan Pemda DIY untuk menjalankan program tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menyambut baik wacana penerapan program Work From Jogja. Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan, pihaknya sudah siap untuk berkolaborasi dengan Pemda DIY untuk menjalankan program tersebut.

"Kita sambut rencana tersebut dan PHRI sudah sangat siap, baik dari segi kesehatan (verifikasi prokes oleh pemda, sertifikasi CHSE oleh Kemenparekraf, vaksinasi sudah kita lakukan), infrastruktur (internet, tempat, fasilitas lain)," kata Deddy kepada Republika.co.id melalui pesan teks, Jumat (11/6).

Walaupun begitu, pihaknya belum mengetahui secara pasti kapan program ini dijalankan. Hingga saat ini, kada Deddy, pihaknya masih menunggu pelaksanaan Work From Jogja dari Pemda DIY.

"Kita terus berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata DIY untuk kesiapan-kesiapannya, saat ini kita menunggu pelaksanaannya," ujar Deddy.

Ia berharap, Work From Jogja ini tidak hanya sekadar wacana tanpa dilaksanakan dengan baik. Pasalnya, kata Deddy, melalui program ini dapat mendongkrak industri pariwisata DIY.

"Semoga hal ini tidak sekadar wacana saja karena program ini akan meningkatkan okupansi hotel, resto di DIY," katanya.

Deddy menjelaskan, saat ini okupansi hotel di DIY masih belum tinggi dan masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, rata-rata okupansi di hotel, baik berbintang maupun tidak, hanya 20 persen dari kapasitas yang disediakan.

"Kita berharap tidak ada lagi kebijakan-kebijakan pemerintah yang berubah-ubah dan mendadak. Karena, hal itu memorak-porandakan program-program kita, yang penting adalah kesehatan dan ekonomi berjalan seiring," katanya.

 

Seperti diketahui, Pemda DIY mengaku sudah siap untuk menerapkan program Work From Jogja sebagai upaya mendongkrak pariwisata. Melalui Dinas Pariwisata DIY, program ini disebut tidak berbeda jauh penerapannya dengan program staycation yang sudah diterapkan sejak 2020 lalu.

"Banyak magnet yang bisa dimanfaatkan wisatawan maupun pekerja yang hendak melaksanakan tugas dari Yogya sekaligus berlibur," kata Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo.

Melalui program Work From Jogja ini, pihaknya berkolaborasi dengan berbagai pihak. Tidak hanya hotel, tetapi desa wisata juga akan didorong untuk dapat menerapkan program ini nantinya.

Di program Work From Jogja, akan ditawarkan insentif dalam bentuk produk souvenir, hotel hingga kuliner. Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji, mengatakan, program ini digadang sebagai upaya dalam mendongkrak pariwisata DIY.

"Misalnya insentif yang diberikan menginap di hotel, ada bonus melihat pertunjukan yang diselenggarakan. Kerjanya kan siang, malam kita berikan insentif, misalnya, pertunjukan Ramayana atau apa," kata Aji.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement