Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Menlu: 1,5 Juta Vaksin AstraZeneca Kembali Tiba di Indonesia

Jumat 11 Jun 2021 05:46 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri / Red: Nidia Zuraya

Tabung vaksin Covid-19 Astrazeneca (ilustrasi). Republika/Thoudy Badai

Tabung vaksin Covid-19 Astrazeneca (ilustrasi). Republika/Thoudy Badai

Foto: Republika/Thoudy Badai
Total vaksin Astrazeneca yang diperoleh RI secara gratis mencapai 8.228.400 dosis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia kembali menerima kedatangan 1.504.800 dosis vaksin jadi Astrazeneca dari skema multilateral Covax Facility, Kamis (10/6) malam. Sebelumnya, Indonesia juga telah menerima 313.100 dosis vaksin Astrazeneca pada 5 Juni 2021 melalui jalur multilateral.

Dengan dua kedatangan vaksin Astrazeneca pada 5 Juni dan 10 Juni ini, maka jumlah total vaksin Astrazeneca dari Covax Facility yang diperoleh secara gratis mencapai sebanyak 8.228.400 dosis vaksin jadi.

Baca Juga

"Alhamdulillah pada malam hari ini Indonesia kembali menerima vaksin Astrazeneca melalui jalur multilateral Covax Facility sebanyak 1.504.800 dosis," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat memberikan keterangan pers.

Secara keseluruhan, jumlah total vaksin yang telah diterima Indonesia saat ini sebanyak 93.728.400 dosis. Dengan rincian, vaksin Sinovac sebanyak 84.500.000 dosis, Astrazeneca 8.228.400 dosis, dan Sinopharm satu juta dosis.

Kedatangan vaksin ke Indonesia ini masih akan terus berlangsung. Pada Jumat (11/6) siang ini, direncanakan sebanyak satu juta dosis vaksin Sinopharm akan kembali tiba di Indonesia. Vaksin ini akan digunakan untuk program vaksin gotong royong.

Retno mengatakan, untuk mencapai herd immunity, pemerintah melakukan pengadaan tiga jenis vaksin yakni Sinovac, Astrazeneca, dan juga Sinopharm. Ketiga jenis vaksin itu pun telah telah memperoleh EUL dari WHO.

"Ini tentunya menunjukkan bahwa vaksin yang dipakai di Indonesia telah memenuhi persyaratan internasional dalam hal kualitas, keamanan, dan efektivitasnya untuk digunakan pada masa darurat kesehatan," jelas Menlu Retno.

Selain itu, WHO juga telah memberikan EUL kepada enam jenis vaksin lainnya, yaitu Pfizer, Johnson & Johnson, Moderna, Astrazeneca, Sinopharm, dan Sinovac per Kamis (10/6).

Retno menyampaikan, pemerintah akan terus bekerja keras mengamankan pasokan vaksin untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Upaya ini, kata dia, tak mudah dilakukan di masa pandemi, sebab pasokan vaksin masih sangat terbatas.

Vaksinasi ini merupakan salah satu upaya penting untuk menekan laju penyebaran virus covid-19. Sejumlah negara yang telah melakukan vaksinasi secara luas pun telah berhasil menurunkan angka penyebaran virus secara signifikan.

Ia mencontohkan vaksinasi di Inggris telah mampu menurunkan kasus harian di angka 5.000-an dari sebelumnya 60 ribu kasus per hari setelah dosis vaksin yang diberikan mencapai 101,51 persen populasi. Sedangkan di Amerika mampu menurunkan kasus per harinya dari sekitar 300 ribu menjadi 12 ribu per hari setelah dosis vaksin yang diberikan mencapai 91,57 persen populasi.

"Artinya, vaksinasi adalah salah satu cara untuk menekan jumlah kasus dan melawan pandemi. Sebelum mencapai angka persentase vaksinasi yang besar, upaya untuk menekan laju penyebaran virus masih harus dibarengi dengan pelaksanaan prokes secara ketat," ucap Retno.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA