Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Pelapor PBB Peringatkan Potensi Kematian Massal di Myanmar

Kamis 10 Jun 2021 06:22 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Ani Nursalikah

Pelapor PBB Peringatkan Potensi Kematian Massal di Myanmar. Rakyat Myanmar berkumpul untuk memprotes kudeta militer dan penahanan para pemimpin pro-demokrasi di Mandalay, Myanmar, 22 Februari 2021.

Pelapor PBB Peringatkan Potensi Kematian Massal di Myanmar. Rakyat Myanmar berkumpul untuk memprotes kudeta militer dan penahanan para pemimpin pro-demokrasi di Mandalay, Myanmar, 22 Februari 2021.

Foto: Anadolu Agency
Myanmar berada dalam kekacauan dan ekonominya lumpuh sejak kudeta Februari.

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON -- Pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar Tom Andrews memperingatkan potensi kematian massal di negara itu akibat kelaparan dan penyakit wabah sebagai dampak dari konflik sejak kudeta militer pada 1 Februari lalu. 

Myanmar berada dalam kekacauan dan ekonominya lumpuh sejak kudeta Februari. Tindakan keras militer brutal terhadap perbedaan pendapat telah menewaskan lebih dari 800 orang.

Baca Juga

Pertempuran telah terjadi di beberapa komunitas, terutama di kota-kota yang menyaksikan jumlah korban tewas di tangan polisi. Sejumlah penduduk juga dilaporkan telah membentuk apa yang disebut sebagai pasukan pertahanan.

Bentrokan meningkat di negara bagian Kayah dekat perbatasan Thailand dalam beberapa pekan terakhir. Penduduk setempat menuduh militer menembakkan peluru artileri yang mendarat di dekat desa-desa.

PBB memperkirakan sekitar 100 ribu orang mengungsi. “Serangan brutal militer tanpa pandang bulu mengancam kehidupan ribuan pria, wanita dan anak-anak di negara bagian Kayah”, ujar Andrews dalam sebuah pernyataan, dilansir France 24, Rabu (9/6).

Kematian massal akibat kelaparan dan penyakit dalam skala yang belum pernah dilihat sebelumnya bisa terjadi di Kayah. Penduduk desa dilaporkan membuat senjata di pabrik darurat saat kelompok pertahanan lokal melawan militer Myanmar yang keras.

Upaya diplomatik untuk menghentikan pertumpahan darah telah dipimpin oleh Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), di mana Myanmar adalah salah satu anggotanya. Namun, blok itu terbelah dengan pertikaian dan hanya berhasil memberikan sedikit tekanan pada junta militer. 

https://www.france24.com/en/asia-pacific/20210609-un-special-rapporteur-to-myanmar-warns-of-mass-deaths-from-starvation-disease

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA