Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Jepang-Australia Suarakan Keprihatinan atas Situasi Xinjiang

Rabu 09 Jun 2021 22:31 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Sejumlah jurnalis asing memotret gedung perkantoran terpadu milik Pemerintah Kota Turban, Daerah Otonomi Xinjiang, China, Jumat (23/4/2021). Pemerintah China membantah klaim asing berdasarkan citra satelit yang menyebutkan  bahwa gedung tersebut merupakan penjara bagi warga dari kelompok etnis minoritas Muslim Uighur.

Sejumlah jurnalis asing memotret gedung perkantoran terpadu milik Pemerintah Kota Turban, Daerah Otonomi Xinjiang, China, Jumat (23/4/2021). Pemerintah China membantah klaim asing berdasarkan citra satelit yang menyebutkan bahwa gedung tersebut merupakan penjara bagi warga dari kelompok etnis minoritas Muslim Uighur.

Foto: ANTARA/M. Irfan Ilmie
China mendesak semua pihak untuk berhenti mencampuri urusan dalam negerinya

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Jepang bersama Australia menyuarakan keprihatinan serius atas laporan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya di wilayah Xinjiang, China. Akan tetapi Beijing menolak pernyataan itu sebagai fitnah jahat.

Seruan telah berkembang dari beberapa negara Barat untuk menyelidiki apakah tindakan China di Xinjiang merupakan genosida. Amerika Serikat dan parlemen di negara-negara seperti Inggris dan Kanada telah menggambarkan kebijakan China di sana.

Baca Juga

"Kami berbagi keprihatinan serius tentang pelanggaran hak asasi manusia yang dilaporkan terhadap Uighur dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang," kata Jepang dan Australia dalam sebuah pernyataan bersama pada Rabu (9/6), setelah pertemuan menteri pertahanan dan luar negeri kedua negara.

"Kami menyerukan China untuk memberikan akses mendesak, bermakna, dan tak terbatas ke Xinjiang bagi pengamat internasional independen, termasuk Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia," imbuh pernyataan itu.

Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi dan Menteri Pertahanan Nobuo Kishi bertemu dengan rekan mereka dari Australia, Marise Payne dan Peter Dutton, melalui konferensi video. Di Beijing, kementerian luar negeri mengatakan sangat keberatan karena Jepang dan Australia memainkan "ancaman China" dan memfitnah negara itu dengan jahat.

China mendesak semua pihak untuk berhenti mencampuri urusan dalam negerinya dan berhenti menyabotase perdamaian dan stabilitas regional. Demikian kata juru bicara kementerian luar negeri Wang Wenbin dalam jumpa pers rutin.

Para menteri Jepang dan Australia juga menyatakan keprihatinan tentang langkah baru-baru ini yang mereka katakan telah melemahkan lembaga-lembaga demokrasi Hong Kong serta mendesak perdamaian dan stabilitas di Laut China Timur dan Selat Taiwan. Mereka juga menyuarakan keprihatinan serius tentang krisis di Myanmar.

"Kami dengan tegas mengutuk kekerasan yang dilakukan terhadap rakyat Myanmar dan menyerukan rezim militer untuk segera menghentikan kekerasan dan tindakan untuk membatasi kebebasan berekspresi, serta untuk membebaskan semua yang ditahan secara sewenang-wenang," kata mereka.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak kudeta militer 1 Februari, dengan protes harian dan pertempuran di perbatasan antara militer dan milisi etnis minoritas.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA