Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Hampir Lengser, Netanyahu Tuding Pemilu Israel Curang

Senin 07 Jun 2021 12:38 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Foto: Pool AP/Sebastian Scheiner
Koalisi pemerintahan baru Israel akan menggulingkan kekuasaan 12 tahun Netanyahu.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Ahad (6/6) menuding koalisi pemerintahan baru Israel adalah bentuk dari kecurangan pemilu terbesar dalam sejarah demokrasi. Koalisi pemerintahan baru Israel sepakat untuk mengambil alih kepemimpinan yang dipegang oleh Netanyahu selama 12 tahun. 

"Kami menyaksikan kecurangan pemilu terbesar dalam sejarah negara ini, menurut pendapat saya dalam sejarah demokrasi mana pun," kata Netanyahu.

Baca Juga

Sebelumnya, pemimpin oposisi tengah Israel Yair Lapid mengumumkan pada Rabu (2/6) bahwa ia telah berhasil membentuk koalisi pemerintahan setelah pemilihan 23 Maret. Mereka sepakat untuk mengambil alih kepemimpinan yang dipegang oleh Netanyahu selama 12 tahun. 

Yair Lapid, seorang sentris dari Partai Yesh Atid (Ada Masa Depan), dan Naftali Bennett, seorang ultranasionalis dari Partai Bennett Yamina (Kanan), mengumumkan kesepakatan itu setelah mereka berhasil menyusun pemerintahan koalisi dengan sejumlah partai dari seluruh spektrum politik. Lapid berhasil mengumpulkan tanda tangan dari tujuh partai yang menandakan kesediaan mereka untuk membentuk koalisi yang akan membentuk pemerintahan baru Israel. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, partai Islamis Arab ikut bergabung dengan koalisi pemerintahan Israel.

Pemerintahan dari koalisi yang baru terbentuk itu terdiri atas berbagai partai. Selain Partai Yesh Atid dan Partai Bennett Yamina, Lapin juga mendapat dukungan dari Partai Israel Beiteinu (Israel Rumah Kita) yang dipimpin oleh Avigdor Lieberman, serta Partai Kahol Lavan (Biru dan Putih) yang dipimpin oleh Benny Gantz. Kemudian, Partai Buruh yang dipimpin oleh Merav Michaeli, partai sosial-demokrat Meretz yang dipimpin oleh Nitzan Horowitz, serta Partai Ra'am (Partai Arab Bersatu) yang dipimpin oleh Mansour Abbas.

Netanyahu menegaskan bahwa koalisi Lapid-Bennett sebagai aliansi kiri akan membahayakan Israel. Dia mengatakan, koalisi tersebut tidak akan mampu melawan Washington atas program nuklir Iran, atau menghadapi kelompok militan Hamas di Gaza yang berperang dengan Israel selama 11 hari pada bulan lalu sebelum gencatan senjata.

"Kami, teman-teman saya dan saya di Likud, kami akan dengan keras menentang pembentukan pemerintah penipuan dan penyerahan yang berbahaya ini," kata Netanyahu.

Beberapa jam setelah Netanyahu melontarkan penolakan koalisi baru, Bennett meminta agar Netanyahu dengan legowo menerima pembentukan pemerintahan baru tersebut. Dalam pidato yang disiarkan di televisi, Bennett meminta juru bicara parlemen dan loyalis Netanyahu, Yariv Levin, untuk tidak mengulur waktu. Menurut Bennett, parlemen harus mengadakan pemungutan suara pada Rabu pekan ini.

"Lepaskan. Biarkan negara bergerak maju. Tuan Netanyahu, jangan tinggalkan bumi hangus di belakang Anda. Kami semua, seluruh bangsa, ingin untuk mengingat kebaikan yang Anda lakukan selama pelayanan Anda," ujar Bennett. 

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA