Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Di Industri Rokok, Petani Raih Untung Terendah

Jumat 04 Jun 2021 17:37 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Seorang petani merawat tanaman tembakau jenis Kemloko di perladangan lereng gunung Sindoro, Bansari, Temanggung, Jateng.  Harga tembakau ditentukan oleh industri rokok dan petani memiliki daya tawar rendah

Seorang petani merawat tanaman tembakau jenis Kemloko di perladangan lereng gunung Sindoro, Bansari, Temanggung, Jateng. Harga tembakau ditentukan oleh industri rokok dan petani memiliki daya tawar rendah

Foto: ANTARA/Anis Efizudin
Harga tembakau ditentukan oleh industri rokok dan petani memiliki daya tawar rendah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Unimma Magelang, Retno Rusdijati mengatakan di dalam industri rokok, petani menjadi pihak yang mendapatkan keuntungan paling rendah. Beberapa kerugian telah dialami petani termasuk juga kesehatan mereka.

"Di dalam tata niaga pertembakauan, sebenarnya petani ini merupakan ujung tombak. Tapi kenyataannya petani masih mempunyai penghasilan di bawah UMR, juga petani merupakan kelompok yang paling rentan terutama ditinjau dari aspek kesehatan," kata Retno, dalam diskusi daring Jumat (4/6).

Beberapa faktor yang merugikan petani tembakau antara lain yakni karakteristik tanaman tembakau yang merupakan tanaman semusim. Artinya, tanaman tembakau hanya tumbuh di musim kemarau.

Selain itu, kata Retno, sifat pasar tembakau adalah pasar oligopsoni. Dengan sifat pasar oligopsoni, artinya harga tembakau ditentukan oleh industri rokok dan petani memiliki daya tawar rendah.

"Petani menghadapi berbagai permasalahan dari hulu ke hilir, yang pertama penentuan biaya produksi yang tinggi. Kemdian, risiko kesehatan akibat proses penanaman tembakau. Timpangnya tata niaga yang meniadakan standar harga dan kepastian usaha, serta perubahan iklim dan anomali cuaca," kata Retno.

Di samping itu, petani tembakau juga disebut mengalami kendala yaitu kurangnya kebijakan pemerintah yang mendukung mereka. Misalnya, Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan kualitas dan produksi pertanian tembakau. Namun, Kementerian Perdagangan tidak melakukan pembatasan impor tembakau.

"Jadi, petani memproduksi tembakau, tapi tembakaunya tidak banyak terserap karena pemerintah mengimpor tembakau," kata dia lagi.

Terkait hal ini, Retno dan pihaknya saat ini melakukan program diversifikasi pertanian dan alih tanam kepada para petani tembakau di beberapa daerah di Jawa Tengah. Diversifikasi tanaman, yakni sistem tumpang sari yaitu menanam beberapa jenis tanaman secara bersamaan.

Sementara itu, alih tanam juga terus didorong agar para petani mendapatkan keuntungan lebih banyak. "Agar beralih tanam menghasilkan keuntungan secara maksimal, maka tanaman baru yang diberdayakan, juga jenis tanaman baru tersebut tidak hanya satu tapi harus lebih dari satu jenis yang dapat dipanen sepanjang waktu," ujar dia.

Lebih lanjut, Retno mengatakan diversifikasi maupun alih tanam merupakan strategi yang efektif bagi para petani dalam mendukung pengendalian tembakau. Menurut Retno, para petani yang sudah diversifikasi dan beralih tanam, sangat mendukung revisi PP 109 Tahun 2012 soal regulasi rokok.

"Bahkan, kalau ditanya apakah mau anak-anak mereka merokok, bapak ikhlas tidak? Mereka jawab tidak," kata Retno.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA