Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Oposisi Israel Deklarasikan Pemerintahan Baru

Kamis 03 Jun 2021 15:26 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Ketua Partai Yesh Atid, Yair Lapid, memberikan pernyataan kepada pers di Knesset, Parlemen Israel, di Yerusalem, pada Senin, 31 Mei 2021.

Ketua Partai Yesh Atid, Yair Lapid, memberikan pernyataan kepada pers di Knesset, Parlemen Israel, di Yerusalem, pada Senin, 31 Mei 2021.

Foto: AP/DEBBIE HILL/Pool UPI
Pemerintah koalisi Israel akan terdiri atas partai-partai kecil dan menengah.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan sekutu politik untuk membentuk pemerintahan baru, Rabu (2/6) waktu setempat. Sekitar 35 menit sebelum tenggat waktu membentuk koalisi pemerintahan, dia mengirimkan email kepada Presiden Reuven Rivlin atas keberhasilannya.

"Saya merasa terhormat untuk memberi tahu Anda bahwa saya telah berhasil membentuk pemerintahan," ujar Lapid.

Baca Juga

Rivlin memberi selamat kepada Lapid melalui telepon menurut kantor kepresidenan. Mitra utama Lapid adalah nasionalis Naftali Bennett, yang akan menjabat sebagai perdana menteri pertama di bawah rotasi antara kedua pria tersebut. Lapid (57 tahun), mantan pembawa acara TV dan menteri keuangan, akan mengambil alih setelah sekitar dua tahun.

Pemerintah koalisi mereka akan terdiri atas partai-partai kecil dan menengah dari seluruh spektrum politik, termasuk untuk pertama kalinya dalam sejarah Israel sebuah partai yang mewakili 21 persen minoritas Arab Israel, United Arab List. Koalisi juga mencakup Yamina (Kanan) pimpinan Naftali Bennett, kiri-tengah Blue and White pimpinan Menteri Pertahanan Benny Gantz, partai sayap kiri Meretz, partai nasionalis Yisrael Beitenu pimpinan mantan menteri pertahanan Avigdor Lieberman, dan New Hope, sebuah partai sayap kanan yang dipimpin oleh mantan menteri pendidikan Gideon Saar, yang memisahkan diri dari Likud Netanyahu.

Pemerintahan baru akan dilantik dalam waktu sekitar 10-12 hari dari sekarang. Ini menyisakan sedikit ruang bagi kubu Benjamin Netanyahu untuk membatalkannya ataupun memberikan suara menentang. Netanyahu hingga kini belum memberikan keterangannya terkait pengumuman Lapid.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA