Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Pesantren di Tasikmalaya Wajibkan Santri Tes Antigen

Kamis 27 May 2021 10:47 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Muhammad Subarkah

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 melakukan rapid test kepada santri di Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 melakukan rapid test kepada santri di Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda

Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
Sejumlah Pesantren di Tasikmalaya Wajibkan Santri Tes Antigen

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Usai libur Lebaran 1442 H, diperkirakan akan ada puluhan ribu santri yang akan kembali ke pesantren di Tasikmalaya. Sejumlah pesantren mulai mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan kembali santri mereka.

Mudir Pondok Pesantren (Ponpes) Idrisiyyah di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasimmalaya, ustaz Cecep Hidayatullah mengatakan, pihaknya sudah membetuk panitia penjemputan untuk mempersiapkan kembalinya santri ke pesantren. Panitia itu bertugas untuk mempersiapkan terkait teknis penjemputan, pendataan santri dan armada, termasuk penerapan protokol kesehatan (prokes) saat proses penjemputan.
 
"Kurang labih akan ada 1.200 santri yang akan kembali ke pesantren," kata dia saat dihubungi Republika, Rabu (26/5).
 
Penjemputan santri di Ponpes Idrisiyyah dilakukan pada 2-3 Juni. Santri yang berasal dari luar kota akan dijemput oleh panitia di sejumlah titik yang telah ditentukan. Sementara santri yang berasal dari Tasikmalaya dan sekitarnya dapat datang secara mandiri ke pesantren dengan diantar oleh orang tua masing-masing. 
 
Ustaz Cecep mengatakan, penjemputan untuk santri dari luar kota atau luar pulau Jawa akan diorganisir oleh panitia. Mereka akan dijemput menggunakan bus, sehingga tidak datang senidiri-sendiri ke pesantren.
 
Setibanya di pesantren, para santri akan menjalani tes antigen untuk memastikan kondisinya bebas Covid-19. "Kita juga terus koordinasi dengan klinik pesantren untuk pelayanan test antigen kepada santri yang kembali. Jadi tes antigen kita laksanakan di pesantren," ujar dia.
 
Ustaz Cecem mengatakan, santri pada dasarnya dibebaskan terkait tempat tes antigen. Namun, pesantren kita tetap fasilitasi untuk santri yang belum melakukan pengetesan antigen.
 
Apabila santri telah sehat, mereka akan langsung berbaur dengan yang lainnya. Menurut dia, prokes di pesantren akan terus diterapkan. Meski penerapan prokes di pesantren sulit untuk dilakukan secara maksimal.
 
Namun, ketika ada santri yang hasilnya positif, pihak pesantren sudah menyiapkan langkah penanganannya. "Kita sediakan tempat istirahat untuk recovery sambil terus diawasi tim medis. Harapan kita, mereka selama sebulan di rumah tetap menerapkan prokes. Jadi ketika kembali semua dalam keadaan sehat," kata dia." kata dia.
 
Sementara itu, di Ponpes Al Kautsar, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, para santri rencananya baru akan datang pada Juli. Sebab, di ponpes itu, tahun ajaran baru akan dimulai pada Juli.
 
"Sekarang hanya ada yang mau ujian sekitar 60 orang," kata Pimpinan Ponpes Al Kautsar, ustaz Rifqi Fauzi.
 
Kendati demikian, menurut dia, pihak pesantren sudah melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan santri pada tahun ajaran baru. Terutama dalam penerapan prokes saat proses kedatangan kembali para santri. 
 
Ustaz Rifqi mengatakan, para santri sudah diingatkan agar menjalani isolasi mandiri selama sepekan sebelum kembali ke pesantren. Para santri juga harus menjalani tes antigen untuk memastikan kondisinya bebas Covid-19.
 
"Juli nanti perkiraan ada 400 santri yang akan datang," kata dia.
 
Sementara di Ponpes Persis 67 Kota Tasikmalaya, proses pembelajaran masih dilakukan secara daring. Para santri di pesantren itu sudah dipulangkan sejak Februari, ketika muncul klaster penyebaran Covid-19 di pesantren itu.
 
"Sekarang pembelajaran masih dilakukan secara daring," kata Pimpinan Ponpes Persis 67 Kota Tasikmalaya, ustaz Asep Abdul Hamid.
 
Rencananya, para santri di pesantren itu baru akan kembali pada 21 Juli. Kedatangan santri akan dilakukan secara bertahap. Santri juga harus diantar oleh keluarga masing-masing ke pesantren, tak diperkenankan menggunakan kendaraan umum. Sementara keluarga santri hanya diperkenankan mengantar sampai depan gerbang. 
 
"Sampai pesantren, nanti akan kita tes antigen dulu. Kalau negatif boleh masuk. Kalau positif karantina dulu atau dibawa pulang lagi," kata ustaz Asep.
 
 
 
 

 
 
 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA