Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Dokter Ingatkan Penderita Asma Wajib Kelola Stres

Kamis 27 May 2021 04:59 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Asma (ilustrasi)

Asma (ilustrasi)

Mengelola stres penting untuk mengurangi risiko penyakit.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Dokter Spesialis Paru Semen Padang Hospital Dr Masrul Basyar, Sp.P (K) FISR mengingatkan penderita asma agar bisa mengelola stres terutama di masa pandemi. Mengelola stres penting untuk mengurangi risiko penyakit.

"Stres dapat menghambat sistem kekebalan tubuh dan orang-orang dengan asma bisa stres di tengah pandemi ini, bila kecemasan meningkat bisa menyebabkan serangan asma atau memperburuk kondisi," kata Masrul Basyar di Padang, Rabu (26/5).

Baca Juga

Ia menyarankan penderita asma bisa mengelola stres dan mengetahui faktor atau alergen pemicunya. Jangan tinggalkan obat asma. Orang dengan penyakit asma dapat menurunkan risiko infeksi atau mengembangkan komplikasi COVID-19 yang serius. Gunakan inhaler asma setiap hari sesuai resep," katanya.

Ia menjelaskan asma merupakan penyakit gangguan pernapasan pada saluran udara yang membuat pengidapnya sulit bernapas. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peradangan saluran udara, sehingga terjadi penyempitan saluran udara sementara dan gangguan oksigen yang masuk ke paru-paru.

Menurut dia, penyempitan saluran pernapasan yang terjadi menghasilkan gejala asma secara umum, seperti sesak napas, batuk, dan sesak dada. Jika dalam kondisi parah, asma dapat mengganggu aktivitas dan ketidakmampuan untuk berbicara.

"Penyakit ini juga dapat membatasi kemampuan seseorang untuk berolahraga dan aktif. Asma yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penderitanya mendapatkan beberapa kunjungan ke ruang gawat darurat hingga rawat inap di rumah sakit," ujarnya.

Untuk mengetahui adanya alergi pada pengidap asma, dokter akan melakukan tes, seperti menyuntikkan beberapa alergen dan mengukur ukuran benjolan merah yang ditimbulkan setelah 20 menit. Dokter juga akan melakukan tes darah IgE atau sIgE.

Asma dipicu oleh faktor genetik, namun juga dapat dipengaruhi lingkungan.Untuk pengobatan bagi penderitanya, tidak semua penderita asma harus dirawat di rumah sakit. Pasien asma yang dirawat di rumah sakit, biasanya adalah pasien dalam serangan dengan infeksi sekunder, misalnya infeksi (bakteri).

"Untuk itu, seseorang yang menderita asma harus melakukan pengontrolan asmanya dengan baik dan perlu pencegahan faktor risiko lingkungan yang memicu serangan eksaserbasi asma, dan menjalani pola hidup sehat, seperti olahraga teratur dan makan makanan bergizi," ujarnya.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA