Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Negara Perlu Hadir untuk Sediakan Akses Buku

Senin 17 May 2021 16:53 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Agus Yulianto

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando.

Foto: Republika / Darmawan
Selama ini, masyarakat masih banyak yang kesulitan untuk mengakses buku. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando mengatakan, untuk meningkatkan indeks literasi perlu ada penguatan dari sisi hulu. Negara harus hadir untuk memberikan akses kepada masyarakat agar mereka bisa membaca buku.

"Yang kita sampaikan adalah memperkuat peran sisi hulu. Jadi perannya sisi hulu dalam intervensi dalam peningkatan indeks literasi. Jadi kita tidak bisa memperkuat kelembagaan yang sudah ada, tapi memperkuat perannya," kata Syarif, saat memberikan paparan di acara 41 Tahun Perpusnas, Senin (17/5).

photo
Sejumlah anak membaca buku di lapak baca yang sediakan oleh Komunitas Pemuda Kolektif, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Komunitas tersebut menggelar lapak baca untuk meningkatkan minat baca masyarakat serta memperingati Hari Buku Sedunia yang jatuh setiap tanggal 23 April. - (YULIUS SATRIA WIJAYA/ANTARA )
 

Menurutnya, budaya literasi harus diperkuat dengan ada upaya holistik terintegrasi dari hulu hingga hilir. Penguatan peran dan kehadiran negara mulai dari eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI, Polri, akademisi, hingga penerbit harus dilakukan dengan penguatan regulasi, distribusi, dan peningkatan anggaran belanja buku.

Dia juga menyampaikan, pengarang atau penerbit buku memiliki peran untuk menyediakan buku sesuai kebutuhan masyarakat, termasuk buku ilmu terapan, buku kemampuan hidup, dan konten lokal. Selain itu kebijakan distribusi perlu diatur agar dapat mencapai pelosok desa terutama di luar Pulau Jawa.

Pemerintah harus memperhatikan kebijakan yang ditetapkan UNESCO terkait rasio buku yang ideal. Rasio buku dengan jumlah penduduk sesuai standar UNESCO yakni tiga buku untuk satu orang. Angka ini harus dapat dicapai untuk meningkatkan indeks literasi Indonesia.

"Penguatan dari sisi hulu harus dilakukan agar sisi hilir indeks literasi serta akses dan kualitas layanan bisa terwujud," kata Syarif menambahkan.

Selama ini, masyarakat masih banyak yang kesulitan untuk mengakses buku. Hal itulah yang menyebabkan indeks literasi di Indonesia tidak kunjung mencapai angka yang diinginkan. Bagi masyarakat desa, ibu-ibu rumah tangga, serta masyarakat termarjinalkan buku masih merupakan hal yang tidak mudah diakses.

"(mereka) tidak akan bisa menolong diri mereka sendiri dengan keterbatasan akses. Mereka menunggu uluran tangan dari negara untuk memberikan akses kepada mereka," kata dia lagi.  

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA