Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Nabi dan Orang Saleh Juga Rasakan Sakitnya Sakaratul Maut

Senin 17 May 2021 08:06 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Nashih Nashrullah

Proses sakaratul maut menyakitkan yang dirasakan orang akan meninggal. Ilustrasi kematian

Proses sakaratul maut menyakitkan yang dirasakan orang akan meninggal. Ilustrasi kematian

Foto: ANTARA/Nova Wahyudi
Proses sakaratul maut menyakitkan yang dirasakan orang akan meninggal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Sakitnya sakaratul maut tidak hanya dirasakan orang awam saja, tetapi para nabi dan orang-orang saleh juga merasakan pedihnya sambut kematian itu. 

Dalam kitabnya yang diterjemaahkan menjadi judul "Mati dan Kejadian Setelahnya, Imam Al Ghzali menukilkan sejumlah riwayat antara lain yaitu suatu ketika Nabi Muhammad SAW menjenguk orang yang sakit lalu beliu bersabda,"Aku tahu rasa sakit yang kau derita. Tidak ada urat yang tak merasakan rasa sakit saat kematian datang." 

Imam Ali bin Abi Thalib RA, menyuntikkan semangat dan keberanian untuk berperang dijalan Allah dengan ucapan, "Jika kalian tidak berperang membunuh di jalan Allah niscaya kalian pun akan mati. Demi Dia yang hidupku berada ditangan-Nya, sungguh 1.000 tebasan pedang yang membunuhku lebih ringan bagiku daripada mati di atas tempat tidur." 

Wali Allah, Syaddad bin Aus berkata, "Mati adalah bencana yang paling mengerikan di antara semua petaka di dunia ini dan di akhirat nanti bagi seorang mukmin. Iya lebih menyakitkan daripada badan dicincang dengan pedang atau gunting atau direbus di dalam kuali titik jika seseorang yang mati bisa bangkit dan memberitahu kepada penduduk dunia tentang kematian, maka mereka tidak akan mengambil suatu manfaat pun dari kehidupan dunia dan tidak akan pernah dapat tidur barang sejenak pendidikan."

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مَوْتِ الْفَجْأَةِ؟ فَقَالَ: رَاحَةٌ لِلْمُؤْمِنِ، وَأَخْذَةُ أَسَفٍ لِلْفَاجِرِ

Diriwayatkan dari Aisyah RA, suatu ketika Rasulullah pernah ditanya tentang kematian mendadak. Rasulullah menjawab, "Mati mendadak adalah kesenangan bagi seorang mukmin dan kesedihan bagi seorang yang zalim." Beliau juga diriwayatkan pernah bersabda:  

لو أن شعرة من شعر الميت وضعت على أهل السموات والأرض لماتوا بإذن الله تعالى لأن في كل شعرة الموت ولا يقع الموت بشىء إلا مات

"Jika sehelai rambut dari satu mayat diletakkan pada penduduk langit dan bumi niscaya mereka akan mati dengan izin Allah SWT. Hal ini disebabkan tekanan beratnya, karena setiap helai rambut tunduk pada kematian. Dan seandainya aja yang menimpa sesuatu, maka sesuatu itu pun akan mati.  

Saat ajal Nabi Ibrahim AS tiba, Allah SWT berfirman kepada beliau, "Wahai khalil-Ku, bagaimana kau merasakan mati?" Beliau menjawab, "Seperti kait besi panas yang berulang-ulang dimasukkan dan ditarik pada kain-kain yang basah." Allah berfirman, "Sebenarnya aku telah memudahkan kematian bagimu." 

Di kisahkan mengenai kematian Nabi Musa AS bahwa ketika nyawanya dibawa ke hadapan Allah SWT, Dia bertanya kepada Musa. "Wahai Musa apa yang kau rasakan ketika mati?" 

Jawab Musa AS, "Aku rasakan hidup laksana seekor pipit. Ketika ia dibakar digoreng di atas pembakaran atau penggorengan yang tak mampu terbang dan juga tak selamat dari rasa sakit saat mati. Aku merasakan rasa sakit yang luar biasa saat sakaratul maut seperti yang dialaminya."

Ada suatu riwayat yang mengisahkan bahwa pada saat ajal menjemput Nabi SAW di dekat beliau terdapat air. Beliau mencelupkan tangannya ke dalam wadah lalu membasuh mukanya dengan air tersebut seraya berkata, "Ya Allah Tuhanku mudahkanlah aku menghadapi sakaratul maut."

Sayyidah Fatimah ra berkata saat itu. "Wahai ayahku betapa hebat rasa sakit yang kau rasakan!" Kemudian beliau bersabda, "Tetapi tak akan ada lagi kesusahan atas ayahmu setelah ini."  

Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Ka'ab Al Ahbar, “Wahai Ka'ab terangkan kepadaku tentang mati." Maka dia pun menjelaskan, "Wahai Amirul Mukminin, mati adalah seperti sebuah ranting yang penuh dengan duri lalu dimasukkan ke dalam perut. Setiap duri tertancap pada kulit yang ada. Setelah itu seorang laki-laki kuat menariknya dengan paksa, maka diambillah darinya apa yang dapat diambil dan tertinggal pada apa yang tidak dapat diambil." 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA