Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Biden Telepon Abbas Bahas Eskalasi Kekerasan di Gaza

Ahad 16 May 2021 13:23 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Indira Rezkisari

Massa di sejumlah kota di Irak menggelar aksi protes terhadap pengeboman oleh Israel di Jalur Gaza, Palestina, Sabtu (15/5). Massa membakar bendera Israel dan Amerika Serikat.

Massa di sejumlah kota di Irak menggelar aksi protes terhadap pengeboman oleh Israel di Jalur Gaza, Palestina, Sabtu (15/5). Massa membakar bendera Israel dan Amerika Serikat.

Foto: Reuters
Biden minta Palestina hentikan tembakan roket ke Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden AS Joe Biden pada Sabtu (15/5) melakukan panggilan telepon pertama dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Panggilan telepon itu dilakukan di tengah pertempuran sengit antara Israel dan kelompok militan Palestina di Jalur Gaza.

Gedung Putih mengatakan, dalam panggilan telepon itu Biden menekankan agar Hamas menghentikan penembakan roket ke Israel. Selain itu, Biden dan Abbas mengungkapkan keprihatinan bersama bahwa warga sipil yang tidak bersalah, termasuk anak-anak secara tragis kehilangan nyawa mereka di tengah kekerasan yang sedang berlangsung.

Biden juga menyampaikan "komitmen AS untuk memperkuat kemitraan AS-Palestina". Biden menyoroti keputusan pemerintahannya baru-baru ini untuk memulihkan bantuan ke Tepi Barat dan Gaza yang diduduki Israel. Sebelumnya pemerintahan mantan Presiden Donald Trump telah memangkas dana bantuan bagi Palestina.

Kantor berita resmi Palestina WAFA melaporkan, Biden mengatakan bahwa dirinya menentang penggusuran warga Palestina dari Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur. Biden telah mengirim seorang utusan untuk mencoba meredam kekerasan di Gaza. Tetapi upaya AS, regional dan internasional belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan.  

Serangan Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 147 warga Palestina, termasuk 41 anak-anak dan 23 wanita. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel menyebabkan 1.115 orang mengalami luka-luka sejak 10 Mei.

Ketegangan meningkat sejak pengadilan Israel memerintahkan penggusuran keluarga Palestina dari lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur. Hal ini menyebabkan aksi protes dari warga Palestina yang diikuti oleh serangan Israel terhadap warga sipil Palestina.

Ketegangan di Yerusalem Timur telah meluas menjadi bentrokan antara polisi Israel dan warga Palestina di sekitar Masjid al-Aqsa. Konfrontasi pecah antara warga Palestina dan polisi Israel di beberapa bagian Yerusalem Timur pada Ahad (9/5), termasuk di Sheikh Jarrah dan di luar Kota Tua serta di Haifa, yaitu kota campuran Arab-Yahudi di Israel utara.

Kementerian Kesehatan Palestina pada hari Rabu (12/5) mengatakan, korban meninggal dunia dari serangan Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza naik menjadi 65, termasuk lima wanita dan 16 anak-anak. Sementara 365 orang terluka.

Serangan Israel terjadi setelah kelompok Hamas meluncurkan sekitar 100 roket, termasuk tujuh di Yerusalem. Sementara sisanya menargetkan Ashkelon, Sderot, dan permukiman di dekat Jalur Gaza. Serangan roket itu terjadi sebagai tanggapan atas serangan Israel yang berkelanjutan di Masjid al-Aqsa, dan penggusuran keluarga Palestina dari lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang diduduki, dilansir dari Reuters.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA