Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Malam Takbiran, Bupati Maros Mendadak 'Gerilya' Warga Miskin

Rabu 12 May 2021 21:29 WIB

Red: Joko Sadewo

Bupati Maros Chaidir Syam saat berada di dapur rumah warga miskin, nenek Rahmah, di kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros pada Malam Takbiran, Rabu (12/5).

Bupati Maros Chaidir Syam saat berada di dapur rumah warga miskin, nenek Rahmah, di kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros pada Malam Takbiran, Rabu (12/5).

Foto: istimewa/doc humas
Bupati Maros ingin memastikan warganya bisa masak di hari Lebaran.

REPUBLIKA.CO.ID, MAROS — Bupati Maros Chaidir Syam melakukan kunjungan mendadak ke sejumlah rumah warga miskin, di sekitaran Kecamatan Turikale, Maros, saat malam takbiran. Kunjungan ini dimaksudkan untuk memastikan kondisi warganya jelang lebaran 1 Syawal 1442 H.

Kedatangan Chaidir pun disambut haru sejumlah warga yang didatanginya. Salah satu yang didatangi adalah Nenek Rahmah. Nenek berusia 81 tahun ini sampai menangis karena haru.

Ia mengaku hampir tak percaya pupati yang belum lama dilantik itu tiba-tiba datang ke rumahnya, yang terletak di Kelurahan Boribellayya. Apalagi, diluar dugaannya, Chaidir mendadak minta ijin masuk ke dapurnya. Padahal,  tempat dia memasak itu  keadaannya sangat kotor dan berantakan.

“Saya bangga dan sangat terharu punya bupati yang merakyat seperti Pak Chaidir. Kami tak salah memilih beliau,” ungkapnya.

Ditanya apa yang dilakukan bupati di dapur, Nenek Rahmah mengatakan mungkin Chaidir ingin tahu, apakah pada malam takbiran ini ada beras yang bisa dimasak atau tidak.

Chaidir Syam mengaku sengaja melakukan blusukan mendadak. Ia  ingin memastikan bahwa warganya dalam keadaan baik-baik saja. Terutama, jelang perayaan Idul Fitri. Ia ingin semua warga yang merayakan harus dalam keadaan penuh dengan kegembiraan, kebahagiaan dan  suka cita.

Menurut Chaidir, Ramadhan dan idul Fitri itu harus memiliki makna sosial yang dalam. Bukan sekedar momen ritual keagamaan. Lebih dari itu, Idul Fitri yang secara harfiah berarti kembali ke fitrah, harus dimaknai sebagai momen kepedulian dan saling memaafkan. Karena itu, pada saat lebaran tiba, tak boleh ada warga yang tak punya sesuatu untuk dimasak atau dimakan.

Chaidir menegaskan, sebagai pemimpin dirinya merasa punya tanggungjawab moral dan jabatan untuk memastikan tak ada warganya yang tidak memasak pada malam takbiran karena tak punya beras. Karena itulah, dirinya merasa harus turun langsung ke beberapa titik tertentu di masyarakat, agar dirinya juga bisa khusus melakukan takbiran.

"Saya tak ingin takbir ini berkumandang di tengah warga saya ada yang jangankan beli daging dan kue lebaran, buat beli beras saja tak punya. Idul Fitri sebagai hari kemenangan itu harus menjadi milik seluruh warga. Bukan hanya milik warga yang mampu. Tapi juga harus menjadi milik warga kurang mampu. Intinya, semua harus bahagia dan penuh suka cita,” papar Chaidir

Sebagai Bupati, lanjut dia, apa yang dilakukannya juga lebih dalam rangka melatih diri sendiri agar semakin peka dan peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan.  Ia mengatakan tak ingin berbuat dzolim terhadap rakyatnya sendiri, hanya karena tak mau tahu apa yang sedang terjadi dengan warganya.

"Insya Allah, saya akan melakukan apapun untuk rakyat saya sesuai dengan power, jabatan dan otoritas yang saya miliki sebagai bupati,” janji dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA