'Idul Fitri Ajang Kokohkan Kebersamaan dan Kepatuhan'

Red: Fernan Rahadi

ilustrasi idul fitri, silaturahmi
ilustrasi idul fitri, silaturahmi | Foto: mgrol100

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Idul Fitri memiliki ari kembali kepada fitrah kemanusiaan yang mengacu kepada tiga nilai utama. Yang pertama adalah keimanan, kedua kebaikan, dan ketiga keindahan. Maka pada konteks Idul Fitri tahun ini, umat Islam harus memaknainya agar nilai-nilai keimanan dengan konteks memberikan rasa aman, baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain.

Caranya adalah mengokohkan kebersamaan dan kepatuhan dengan memakai masker, menjaga jarak dan juga selalu untuk mencuci tangan, untuk menyempurnakan kemenangan di hari Fitri.

“Itulah sesungguhnya hakikat dari pada Idul Fitri karena kalau kita memiliki pemahaman yang rasa aman maka itu akan terjadi kebaikan di tengah masyarakat. Kebaikan yang diharapkan pada saat ini adalah tidak menyebarnya Covid-19," ujar Anggota Komisi VIII DPR RI KH Maman Imanulhaq, Rabu (12/5).

Tentu, lanjut Kang Maman, nilai-nilai kebaikan itu harus menjadi prinsip utama umat Islam dalam merayakan Idul Fitri. “Kita masih diberi umur oleh Allah SWT,  kita masih diberi kesempatan untuk menikmati Idul Fitri walau dalam keterbatasan. Keindahan Idul Fitri bukan terletak pada nilai kerumunan atau pertemuan tapi justru pada hakikat kebersamaan dan persaudaraan," katanya.

Selain itu, kemenangan pada Idul Fitri sesungguhnya terletak pada kemampuan untuk meraih kebahagiaan dan itu hanya bisa dicapai atas tiga hal. Pertama adalah tazkiyatun fafsi atau pensucian diri, tidak boleh ada iri, dengki, tidak boleh ada dendam, tidak boleh ada penyebaran hoax tidak boleh ada fitnah. Juga tidak boleh ada upaya untuk merancang perilaku radikalisme atau terorisme karena orang yang hatinya suci akan selalu mencintai sesama dan mencintai negeri.

Yang kedua, kata Maman, kebahagiaan dan kemenangan itu dicapai dengan dzikir yang banyak menyebut nama Allah. Hal ini sebenarnya menjadi momentum penting ketika memakai masker untuk menutup mulut, maka itu menjadi tanda bahwa tidak boleh berbohong, tidak boleh memfitnah, memprovokasi, menyebarkan hoaks, dan juga mengumbar janji yang tidak akan bisa dipenuhi.

"Setelah itu ketiga yaitu melakukan salat. Salat itu menjadi inti utama dalam ajaran Islam di mana orang yang melakukan salat dia akan dijauhkan dari nilai-nilai fahsya dan mungkar nilai-nilai kejelekan. Maka orang yang rajin salat tidak akan pernah dia berani untuk mencaci maki, memfitnah saudaranya sendiri. Ia akan selalu menciptakan nilai-nilai perdamaian dan keselamatan," ungkap pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Majalengka ini.

Maman melanjutkan, momen Idul Fitri adalah momen dimana umat harus saling menguatkan dan kembali ke trilogi hubungan.  pertama adalah hubungan dengan Allah atau habluminallah, yang kedua habluminannas hubungan dengan sesama manusia, dan yang ketiga adalah hubungan dengan alam semesta ini sendiri.

Menurutnya, orang yang menjalin hubungan dekat dengan Allah bisa dengan berpuasa dengan salat, salat tarawih, berzikir, dan membaca Alquran. Kemudian dia juga harus memperhatikan hubunganya dengan sesama manusia, dengan melakukan sedekah, buka bersama, membayar zakat, memberikan kebaikan kebaikan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


Idul Fitri, Masyarakat Diminta Tetap Patuhi Prokes

Haedar Nashir Harap Idul Fitri Kuatkan Simpul Persaudaraan

Sholat Id di Masjid Agung Tasikmalaya Akhirnya Diizinkan

Suasana Jelang Idul Fitri yang Berbeda di Gaza Palestina

Penghujung Ramadhan Momentum untuk Bercermin Kembali

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark