Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Korban Longsor Tambang Solok Selatan Bertambah 1 Orang

Rabu 12 May 2021 12:46 WIB

Rep: Febrian Fachri/ Red: Friska Yolandha

Warga mencari pekerja tambang emas yang masih tertimbun di kawasan hutan Jorong Timbahan, Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, Selasa (11/5/2021). Sebanyak delapan orang pekerja tambang emas meninggal dunia dan sembilan luka-luka akibat terjadinya longsor di kawasan tambang ilegal tersebut.

Warga mencari pekerja tambang emas yang masih tertimbun di kawasan hutan Jorong Timbahan, Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, Selasa (11/5/2021). Sebanyak delapan orang pekerja tambang emas meninggal dunia dan sembilan luka-luka akibat terjadinya longsor di kawasan tambang ilegal tersebut.

Foto: Muhammad Arif Pribadi/ANTARA
Secara total, terdapat 8 orang korban meninggal dunia akibat longsor tambang.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLOK SELATAN -- Kelaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok Selatan Richie Amran mengatakan pada Selasa (12/5) malam WIB kemarin pihaknya bersama tim gabungan berhasil menemukan korban terakhir dari kejadian longsor di kawasan tambang emas ilegal di daerah Timbahan, Jorong Kapalo Koto, Nagari Abai Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan. Total, ada 8 orang korban meninggal dunia akibat longsor di Solok Selatan.

"Alhamdulillah, kita sudah menemukan korban. Sesuai laporan yang kita terima, ini adalah korban terakhir," kata Richie, Rabu (12/5).

Baca Juga

Siman menjadi penambang ke-8 yang ditemukan tewas. Sebelumnya, petugas telah mengevakuasi tujuh jenazah dari lokasi dan menemukan sembilan korban lainnya dalam kondisi selamat namun penuh luka.

“Secara keseluruhan korban berjumlah 17 orang. Delapan meninggal dunia, sembilan orang selamat,” ucap Richie.

Selama evakuasi korban, petugas sempat menemui kendala, karena beratnya medan menuju lokasi. Lokasi penambangan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki antara 3 sampai 4 jam. Ketiadaan sarana komunikasi juga menyulitkan pergerakan tim. Selain itu, longsoran di lokasi tambang tersebut adalah berupa bongkahan-bongkahan batu seukuran mobil.

Musibah itu sendiri terjadi pada Senin (10/5) pagi. Namun baru dilaporkan kepada petugas pada siang harinya. Penyebabnya karena ketiadaan akses komunikasi dan sulitnya medan ke lokasi.

Sempat beredar kabar adanya lebih dari 40-an penambang yang tertimbun di lokasi tersebut, namun informasi tersebut tidak bisa diverifikasi, karena tercatat hanya ada 17 orang korban yang ditemukan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA