Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Meluncur di Tengah Pandemi, Pinkflash Tetap Optimistis

Rabu 12 May 2021 00:03 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

Ilustrasi kosmetik

Ilustrasi kosmetik

Foto: Pixabay
Saat ini, industri kosmetik menjadi salah satu sektor strategis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di masa pandemi, industri kosmetik menjadi salah satu sektor strategis. Tercatat, pembelian produk kosmetik secara online meningkat hingga 80 persen di bulan November 2020.

Indonesia menjadi salah satu pasar yang potensial untuk penjualan jenama-jenama kecantikan. Bahkan, menurut Euromonitor, pasar kecantikan dan perawatan diri di Indonesia diperkirakan akan bertumbuh hingga mencapai Rp. 119 triliun atau setara 8,46 miliar dollar Amerika Serikat pada tahun 2022.

Misalnya saja, lipstik telah mencapai penjual bulanan 7.600 pcs di Malaysia dan blush on menempati urutan pertama di Shopee Thailand dengan 3.400 pcs per bulan.

Tren positif ini juga dirasakan oleh salah satu jenama kosmetik pendatang baru, yakni Pinkflash. Diluncurkan di tengah pandemi, tepatnya pada September 2020, Pinkflash berhasil mendapatkan izin BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dan mencatatkan pertumbuhan pesat di seluruh wilayah Asia Tenggara. Produk Pinkflash diklaim menjadi salah satu yang paling laris di marketplace. Misalnya saja, lipstiknya telah mencapai penjual bulanan 7.600 pcs di Malaysia dan blush on menempati urutan pertama di Shopee dengan 3.400 pcs per bulan.

"Ketika semakin banyak konsumen yang membeli secara daring, salah satu aspek terpenting yang mereka perhatikan adalah keamanan dan kualitas produk. Ada ratusan brand kosmetik di luar sana, namun Pinkflash selalu memprioritaskan keamanan dan kualitas produk kami," kata E-Commerce Supervisor Pinkflash Indonesia Febryanto, Selasa (11/5).

photo
Jenama kosmetik Tanah Air, Pinkflash. - (Dok. Pin)
"Itulah mengapa kami hanya menggunakan bahan-bahan yang aman dengan proses produksi berstandar tinggi. Pinkflash telah lulus sertifikasi BPOM paling ketat di Indonesia hanya dalam waktu setengah tahun. Karena itu, konsumen pun bisa dengan tenang menggunakan berbagai produk riasan kami untuk kegiatan sehari-hari, karena formulanya telah dirancang dengan sangat baik," kata dia melanjutkan. 

Untuk menambah kualitas produk, kata dia, Pinkflash memasukkan elemen vitamin dan bahan-bahan alami agar pengguna riasan Pinkflash dapat merasakan manfaat make-up sekaligus merawat kulit muka - terlebih karena para perempuan Indonesia banyak yang memiliki kulit sensitif akibat tumbuh di daerah tropis. Misalnya, masih kata dia, lipstik Pinkflash mengandung vitamin E, sementara lipgloss-nya dibuat dengan minyak kelapa, bunga matahari, serta kacang Macademia, yang semuanya merupakan bahan alami yang sangat aman bagi konsumen.

“Karena keamanan yang dijamin BPOM dan kualitas produk yang terbuat dari bahan-bahan alami, Pinkflash merupakan brand kosmetik yang sangat cocok untuk para pemula. Selain itu harga produk-produk Pinkflash - mulai dari lip gloss, blush on, hingga lipstik, juga terjangkau, sehingga dapat mengakomodasi semua make-up enthusiast di Indonesia," ujar Febryanto.

Langkah ini merupakan strategi khusus untuk menarik konsumen Indonesia. Berdasarkan Consumer Insight Deloitte tahun 2019, faktor utama konsumen Indonesia dalam memilih brand kosmetik adalah harga (19 persen) dan kualitas (19 persen). Selain itu, menurut Euromonitor, rata-rata total belanja masyarakat Indonesia untuk kebutuhan kosmetik dan perawatan diri berkisar disekitar Rp. 282.000 per kapita. Angka tersebut masih lebih kecil dibandingkan Thailand (56 dollar AS) dan Malaysia (75 dollar AS), sehingga membuktikan bahwa ruang perkembangan bagi industri kecantikan di Indonesia masih sangat berpotensi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA