Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Jelang Lebaran, Okupansi Hotel di Puncak Turun 90 Persen

Selasa 11 May 2021 19:10 WIB

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Indira Rezkisari

Suasana kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hotel di kawasan Puncak, Bogor, minim pengunjung karena terkait larangan mudik.

Suasana kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hotel di kawasan Puncak, Bogor, minim pengunjung karena terkait larangan mudik.

Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Hotel sulit terima tamu karena terkait larangan mudik.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Menjelang lebaran, tingkat hunian hotel dan restoran di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, turun hingga 90 persen. Para pengusaha hotel mengalami kesulitan mendapatkan tamu karena adanya pembatasan wilayah aglomerasi dalam larangan mudik.

Ketua Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor, Budi Sulistyo, mengatakan, tempat wisata dan hotel di Bogor sangat berkaitan. Apalagi, saat ini pemerintah masih membatasi pembukaan tempat wisata.

Hanya saja, lanjutnya, segmen lokal sangat sulit untuk menginap di hotel atau kuliner di restoran. Di mana sebagian besar tamu hotel dan restoran berasal dari luar Bogor.

"Sebesar 90 persen, tamu-tamu hotel dan restoran di Puncak warga di luar Bogor. Dengan adanya peraturan baru pembatasan wilayah aglomerasi, sebagian besar tamu kita batal berkunjung," kata Budi, Selasa (11/5).

Jika mengacu pada kebijakan semula, kata Budi, perjalanan di wilayah aglomerasi Jabodetebek diperbolehkan. Saat itu hotel dan restoran masih berharap adanya peningkatan tamu dari luar Bogor.

"Sekarang mau buat promo untuk tamu lokal, rasanya sulit. Siapa warga Bogor yang mau menginap di Puncak untuk ke Safari, misalnya," tuturnya.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan, dua hari menjelang lebaran, biasanya ada peningkatan tingkat hunian atau okupansi di atas 50 persen. Berbeda dengan saat ini, hotel dan restoran justru cenderung sepi.

"Saya cek hotel-hotel, minus tamu. Pun ada tamu, jumlahnya jauh di bawah 50 persen,” tambahnya.

Tidak jauh berberda dengan tingkat hunian hotel dan restauran di Kota Bogor. Ketua PHRI Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay, menambahkan, sebetulnya saat ini hotel dan restoran lebih siap setelah vaksin dan telah lulus setifikat penerapan protokol kesehatan CHSE.

"Sebetulnya Lebaran ini jadi momentum untuk menaikkan okupansi. Tapi saat ini, rata-rata okupansi tertahan paling baik di angka 40 persen,” kata Yuno.

Oleh karena itu, Budi dan Yuno mewakili PHRI Bogor berharap agar kondisi serupa tidak berkepanjangan. Pascalebaran nanti, adanya stimulus orang mau kembali berwisata dan menginap di hotel.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA