Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Irak akan Beli 32,7 Persen Saham ExxonMobil di West Qurna 1

Selasa 11 May 2021 11:12 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha

Exxon.

Exxon.

Foto: AP Photo/Matt Rourke
Exxon berusaha untuk menjual sahamnya seharga 350 juta dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Irak telah secara resmi mengajukan permintaan untuk membeli saham raksasa energi AS Exxon Mobil di salah satu ladang minyak terbesar Irak, West Qurna 1. Direktur Perusahaan Minyak Milik Negara, Basra, Khalid Hamza mengatakan Basra sudah mengirimkan surat resmi kepada ExxonMobil.

"Keputusan telah dibuat dan kami mengirim surat resmi ke ExxonMobil meminta untuk membeli sahamnya," kata dia kepada Reuters dalam sebuah wawancara, Senin (10/5).

Ia menambahkan, Kementerian Minyak dan Keuangan akan menindaklanjuti prosedur dari sisi keuangan. Bulan lalu, Exxon menyatakan sedang berusaha untuk menjual 32,7 persen sahamnya di West Qurna 1 dan menyebut kementerian perminyakan telah memulai diskusi mengenai kemungkinan pembelian.

Khalid mengatakan Exxon sedang berusaha untuk menjual sahamnya seharga 350 juta dolar AS. Permintaan resmi untuk membeli saham tersebut belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Penjualannya akan menandai pergeseran untuk Exxon yang pada 2019 tampaknya siap untuk melanjutkan proyek senilai 53 miliar dolar AS dalam meningkatkan produksi minyak Irak. Hamza mengatakan, Perusahaan Minyak Basra setelah mengakuisisi saham akan berkoordinasi dengan mitra lain yang mengoperasikan lapangan untuk memastikan operasi terus berjalan lancar.

Pemegang saham asing lainnya di West Qurna 1 adalah Petrochina dengan kepemilikan 32,7 persen saham, Itochu Corp Jepang sebesar 19,6 persen dan Pertamina Indonesia dengan 10 persen. Perusahaan Eksplorasi Minyak milik pemerintah Irak memegang sisa lima persen.

Bagi Irak yang merupakan produsen minyak terbesar kedua OPEC, pendapatan minyak mewakili setidaknya 95 persen dari pendapatan negara. Sebelumnya, Irak telah terpukul oleh jatuhnya permintaan dan harga minyak tahun lalu yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Tetapi kini pasar telah mulai pulih. Sebagai tanggapan, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen sekutu telah sepakat untuk sedikit meningkatkan produksi mulai 1 Mei.

Hamza mengatakan Irak telah menyetujui anggaran investasi 2021 yang diberikan oleh perusahaan minyak internasional untuk pengembangan ladang minyak Basra selatan yang dikelola oleh BOC. Nilainya diperkirakan sekitar tujuh miliar dolar AS.

"Untuk menghasilkan lebih banyak pendapatan, Irak berencana meningkatkan produksi ringan 100 ribu barel per hari (bpd) hingga mencapai 1,1 juta barel per hari," katanya. Dia menambahkan bahwa ekspor minyak untuk Mei sejauh ini rata-rata 2,85 juta barel per hari, turun dari 2,9 juta barel per hari di bulan April.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA