Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Ada Apa Gobel Peduli Petani?

Senin 10 May 2021 13:07 WIB

Red: Joko Sadewo

Sejumlah petani memasang jaring pada tanaman padi di Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (6/5/2021). Petani setempat memasang jaring-jaring tersebut untuk melindungi tanaman padi yang telah berusia 70 hari agar tidak dimakan hama burung sehingga hasil panen padi tetap baik.

Sejumlah petani memasang jaring pada tanaman padi di Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (6/5/2021). Petani setempat memasang jaring-jaring tersebut untuk melindungi tanaman padi yang telah berusia 70 hari agar tidak dimakan hama burung sehingga hasil panen padi tetap baik.

Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Para petanilah yang memberi makan pada bangsa ini.

Oleh : Nasihin Masha

REPUBLIKA.CO.ID, Saya mengenal nama Rachmat Gobel cukup lama. Mungkin sejak menjadi wartawan pada 1993. Atau mungkin sejak ICMI didirikan pada 1990. Namun saya hanya mengenal nama. Saya mengenal secara fisik setelah saya menjadi pemimpin redaksi. Setiap tahun ia mengundang para pemimpin redaksi untuk hadir dalam acara buka puasa masyarakat Gorontalo di Jakarta. Acara berlangsung di hotel. Namun kenalnya begitu saja. Tak dekat. Bahkan kemudian, setiap tahun, ia mengundang para pemimpin redaksi ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Sekali lagi, saya tak cukup dekat. Hingga suatu waktu ia dicopot dari jabatan menteri perdagangan, saya menulis di kolom Resonansi Republika. Seperti biasa, saya memberikan komentar dan sedikit analisis peristiwa paling menarik dalam sepekan. Karena tak cukup dekat, saya menulis berdasarkan informasi yang berkembang di media massa saja. Rupanya ia terkesan dengan tulisan itu. Hingga kemudian saya memiliki cukup kedekatan, terutama akhir-akhir ini.

Rupanya Gobel memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pertanian dan petani. Sebagai wakil ketua DPR RI, ia fokus pada tiga hal: pertanian, peternakan, dan perikanan. Yang utama adalah pertanian. Tentu saja ini mengejutkan, karena selama ini ia dikenal sebagai industriawan. Ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel, dikenal sebagai industriawan pertama Indonesia. Ia membuat radio transistor pertama dengan merek Tjawang. Melalui fokus di tiga hal tersebut, Gobel yang pendatang baru dalam dunia politik, melakukan langkah politik yang tak lazim dan melelahkan: politik pembangunan. Inilah politik amal perbuatan melalui perbuatan nyata membangun masyarakat. Ia tak melakukan politik dengan akrobat kata-kata, tidak melakukan manuver-manuver politik, tidak melakukan politik sembako, dan segala hal yang semacamnya. Tentu hal ini melawan arus pragmatisme politik yang instan. Namun sebagai orang yang terbiasa di dunia industri yang konkret, terbiasa dengan proses yang detil, bagi Gobel hal itu sesuatu yang lazim saja.

Apa yang dilakukan Gobel? Ia gelisah dengan nasib petani dan “terpeliharanya kemiskinan petani”. Saat tiba musim tanam petani sulit mendapatkan pupuk dan bibit, serta harga pupuk yang melambung, sedangkan saat musim panen datang harga gabah jatuh. Belum lagi pengolahan pasca panen yang tradisional sehingga menghasilkan gabah kualitas medium maupun potensi kehilangan gabah hingga 30 persen. Indonesia juga selalu dihantui momok impor beras, yang sangat merugikan petani karena membuat harga gabah terperosok dalam. Menghadapi situasi itu, saat menjadi menteri perdagangan, Gobel menolak impor beras. Harga gabah dan beras bisa terjaga dengan baik, rantai pasokan juga terjaga dengan baik. Petani untung, konsumen terlindungi. Namun ia menghadapi mafia beras yang selama ini mengendalikan politik beras nasional – inilah salah satu yang membuat ia terpental dari jabatan menteri. Salah satu bentuk permainan mafia beras itu adalah membuat kegelisahan publik dengan rumor beras plastik. Kini, sebagai anggota DPR RI, ia melakukan gerakan pertanian tanpa pupuk subsidi. Ia melakukan uji coba di Gorontalo dan Sumba, Nusa Tenggara Timur. Dua provinsi ini merupakan provinsi termiskin keempat dan kelima. Hasilnya bagus, produktivitas naik dua kali lipat. Keuntungan petani juga meningkat drastis. Kini, ia sedang berupaya agar pertanian non-subsidi ini massif.

Bukan Barang Baru

Suatu kali Gobel bercerita, “Pertanian bukan hal baru bagi keluarga kami.” Setelah sukses membuat radio Tjawang pada 1954 dan pesawat televisi pada 1962, Thayeb Mohammad Gobel, saat mudik ke kampungnya di Gorontalo terkena teguran para tetua di sana. “Kami tentu bangga orang pertama di Republik ini yang membuat radio transistor berasal dari Gorontalo. Namun kami lebih bangga jika kamu bisa memajukan pertanian dengan membuat peralatan pertanian dengan teknologi baru. Saudara-saudaramu di sini adalah para petani,” begitu kira-kira teguran dari tetua kampung Hubulo kepada Gobel senior. Maka setelah kembali ke Jakarta, Gobel senior bertekad membuat traktor untuk membajak tanah. Sebagai seorang industriawan, cita-cita itu akhirnya bisa ia wujudkan. Ia mendirikan perusahaan Paditraktor, singkatan dari Pabrik Diesel Traktor. Tak hanya traktor, tapi juga membuat mesin penggilingan beras. Itu terjadi pada 1963. Rupanya, kehadiran teknologi maju di bidang pertanian di awal 1960an itu terlalu maju bagi Indonesia. Bahkan pemerintah Orde Baru yang getol melakukan modernisasi pertanian pun, yang 32 tahun berkuasa, belum begitu berhasil. Baru akhir-akhir ini saja traktor menjadi alat lazim untuk membajak sawah. Sampai dekade 1980an dan 1990an, walau traktor mulai hadir secara lebih massif, namun petani lebih suka dengan cangkul dan kerbau atau sapi untuk membajak sawah. Karena itu, lini usaha alat-alat pertanian tak berkembang, sedangkan industri elektronika makin maju dan besar.

Namun hal itu bukan berarti mematikan semangat dan visi keluarga Gobel di bidang pertanian. Apalagi pertanian telah menjadi visi Gobel. Ia membuat relief di ruang tamu utama di kantornya tentang pertanian. Relief itu dibuat di tembok dan memanjang di ruang tamu dengan ukuran besar itu tentu unik. Dimuali dengan cerita manusia berburu dan meramu di zaman batu, lalu beralih ke masa bercocok tanam. Ada petani yang sedang membajak sawah dengan kerbau, juga kaum wanita menanam padi. Relief ini mengingatkan materi Bung Karno saat memberikan kursus tentang Pancasila yang menceritakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan dan keyakinan umat manusia yang dikaitkan dengan kegiatan ekonomi. Relief ini dibangun pada 1960, tak lama setelah Bung Karno memberikan kursus Pancasila pada 1959 – di ruang kerja Gobel senior itu juga terpajang patung Garuda Pancasila yang tetap terawat hingga kini. Namun dalam relief itu dilanjutkan ke fase berikutnya, petani sudah berbaju modern dengan alat traktor dan mobil pengangkut hasil tani. Tak hanya itu, di depan relief itu juga terpajang patung petani dari kayu yang sedang mencangkul. Patung ini juga tertangkap kamera saat penandatanganan kerja sama antara Matsushita dan Gobel, yang menjadi awal kerja sama mereka membangun Panasonic-Gobel pada 1970. Relief dan patung tersebut seolah menjadi penanda dan pengingat bagi keluarga Gobel maupun manajemen di perusahaan tentang pentingnya pertanian. Sebagai pengusaha yang bermitra dengan Jepang, keluarga Gobel juga banyak menyerap filosofi orang Jepang. Mereka sangat menghargai petani yang memberi makan pada bangsanya. Sistem dan tata nilai dunia pertanian juga tetap terjaga dari dulu hingga kini. Tak heran jika Gobel mengambil filosofi industrinya dari dunia tumbuhan: pohon pisang.

Rachmat Gobel berpikir lebih jauh lagi tentang dunia pertanian. Ia tak berhenti pada modernisasi dan mekanisasi pertanian, tapi membangun industri berbasis pertanian. Inilah visi besar dan cita-citanya yang ingin ia wujudkan. Moderniasi dan mekanisasi pertanian – bibit, pupuk, traktor, irigasi, alat panen, alat pasca panen – luarannya adalah produktivitas dan kualitas produk pertanian. Sedangkan industri berbasis pertanian tak berhenti pada modernisasi dan mekanisasi pertanian tapi membangun sebuah ekosistem dari hulu hingga hilir sehingga semua elemen sosial terpenuhi kebutuhan sosial-ekonominya secara berkelanjutan dan terjaga dengan harmonis. Misal, dengan modernisasi dan mekanisasi pertanian maka produktivitas dan kualitas padi/gabah/beras akan meningkat dengan baik. Namun suatu waktu akan terjadi over supply. Hal ini bisa membuat harga jatuh dan terjadi gejolak di pasar. Maka melalui industrialisasi pertanian hal itu bisa dihindarkan karena ada yang menampung, yaitu industri berbasis beras seperti tepung, minyak, produk olahan, dan sebagainya. Luarannya bukan sekadar produktivitas dan kualitas produk, tapi nilai tambah dengan valuasi yang jauh lebih tinggi.

Industri berbasis pertanian ini harus berada dalam suatu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), sehingga jika berlebih akan bisa mudah diekspor dan jika ada kekurangan juga mudah diimpor. Keberadaan KEK juga memudahkan kontrol sehingga stabilitas selalu terjaga. Tentu beras hanya salah satu contoh. Bisa dikembangkan lagi untuk semua produk pertanian, peternakan, dan perikanan. Kita bisa membayangkan bagaimana jika visi besar industrialisasi berbasis pertanian, peternakan, dan perikanan ini terwujud. Ya, pada akhirnya, Rachmat Gobel memang tak bisa dipisahkan dari cara berpikir seorang industriawan. Ia bukan pedagang, yang hanya berpikir jual dan beli, ekspor dan impor. Tapi ada visi tentang nilai tambah, ketahanan dan stabilitas bangsa, kesejahteraan dan kemakmuran bersama, serta budaya suatu bangsa. Apalagi pertanian berarti perdesaan, yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia. Pertanian tak hanya menjadi penyerap tenaga kerja terbesar tapi juga menjadi fondasi ekonomi nasional – hal ini sudah teruji saat krisis 1997-1998 maupun 2009, tapi juga di masa pandemi ini. Isu perubahan iklim, yang mengancam produktivitas dan ketersediaan pangan dunia, makin menguatkan tentang pentingnya pembangunan sektor pertanian.

Koperasi

Salah satu handicap petani adalah posisi tawarnya yang selalu lemah, apalagi jika dihadapkan pada dunia industri dan keganasan dunia perdagangan. Produk pertanian adalah produk yang sangat rentan: rentan busuk, rentan standar kualitas. Apalagi petani Indonesia umumnya petani gurem dengan kepemilikan lahan di bawah 0,5 hektare bahkan kini mengarah ke 0,25 hektare. Dengan kenyataan ini, mereka terbentur modal untuk bisa menggapai pupuk, bibit, dan alat-alat pertanian. Akhirnya mereka seperti berjalan di lumpur dalam: berat dan terhisap. James C Scott, seorang peneliti, pernah membuat gambaran yang tepat tentang kondisi petani yang seperti itu. Yakni seperti berdiri di pantai hingga air sebatas leher, dengan satu gelombang saja ia sudah tenggelam. Clifford Geertz, peneliti dari Amerika Serikat, menyebutnya sebagai involusi pertanian.

Namun semua itu tak harus membuat pesimis dan berlarut dalam kekelaman. Nyatanya, hingga kini, petani Indonesia tetap giat bekerja dan mencintai profesinya. Mereka memberi makan pada bangsa ini. Walaupun bagi mafia beras dan pejabat pencari rente, situasi ini justru keuntungan besar. Impor satu juta ton beras bisa bermakna triliunan rupiah dalam sekali tepuk, sambil meruntuhkan harga gabah dan makin memurukkan petani. Padahal petani tersebut telah menyumbang 55 juta ton per tahun. Karena itu, Gobel menyindir rencana itu dengan berucap: “Izinkan saya membungkukkan badan pada petani. Para petanilah yang memberi makan pada bangsa ini. Mereka telah menjaga kehormatan bangsa Indonesia sehingga tidak mengemis pangan pada bangsa lain.” Hal itu ia ucapkan di hadapan petani di Jember, Jawa Timur. Akhirnya, rencana impor itu batal. Kepala Bulog, Budi Waseso menguncinya dengan menyatakan stok beras dari petani sudah cukup.

Situasi seperti ini tak bisa dihadapi dengan cara adhoc dan bersifat personal. Ia harus diselesaikan secara kelembagaan yang bersifat permanen. Untuk menguatkan posisi petani maka petani harus bersatu. Di mana-mana di dunia, petaninya bersatu dalam wadah yang kuat. Di negara-negara Skandinavia, Jepang, bahkan China, mereka bersatu dalam wadah koperasi. Solusi ini sepertinya klise. Namun tidak bagi Gobel. Ia kembali menyeru kepada ajaran nenek moyang yang dulu digemakan Bung Hatta. Ini juga sesuai dengan ajaran nenek moyang, yaitu gotong royong, yang digemakan Bung Karno. Akhirnya, inilah wadah yang paling sesuai dengan falsafah Pancasila. Jika di masa Orde Baru belum berhasil maka kini saatnya untuk mewujudkannya. Sejumlah koperasi terbukti berhasil. “Petani itu seperti sapu lidi, jika sendiri-sendiri mudah dipatahkan. Tapi jika bersatu maka akan kuat,” kata Gobel. Koperasi ini bertugas menyediakan pupuk dan bibit serta menyerap hasil panen.

Untuk mewujudkannya, Gobel sedang merintisnya di Gorontalo dan Sumba dalam membangun pertanian tanpa pupuk subsidi. Memang ini bukan tugas ringan. Namun ini adalah jalan terbaik agar petani kuat dan agar keberlanjutan dan kedaulatan pangan Indonesia terwujud. Hal ini juga akan menguatkan petani dalam konsep industrialisasi berbasis pangan. Karena industrialisasi berbasis pangan adalah kesemestian yang tak terelakkan di masa depan. Hanya dengan cara itu Indonesia kuat. China pernah mengalami kelaparan hebat di masa Mao Tse Tung, jutaan orang mati. Belajar dari pengalaman itu, China membangun pertaniannya dengan baik, bahkan Indonesia pernah mengimpor beras dari China pada 2016, 2017, dan 2018. Hingga kini Indonesia juga masih mengimpor beras dari India. Bayangkan negeri berpenduduk lebih dari satu miliar dan negeri kaya tapi tetap membangun kedaulatan pangan pokoknya.

Gobel menyatakan bahwa membangun industri berbasis pangan ini merupakan bentuk perwujudkan konsep Presiden Jokowi tentang membangun Indonesia dari desa dan dari pinggiran. Selain pertanian adalah fondasi ekonomi Indonesia, pertanian juga menyerap tenaga kerja yang besar. “Indonesia harus berterima kasih pada petani. Karena itu berikan kehormatan pada petani,” kata Gobel.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA