Tradisi Nganggung di Babel Ditiadakan

Red: Agung Sasongko

 Senin 10 May 2021 06:37 WIB

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman, melakukan kegiatan Safari Jumat di Masjid Al-Mukarromah di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan Jumat, (22/1). Kegiatan Safari Jumat merupakan kegiatan rutinitas sebagai ajang silaturahmi dengan masyarakat di Babel. Sehingga hubungan antara  Gubernur Erzaldi dengan masyarakat tetap terjalin dengan baik Foto: istimewa Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman, melakukan kegiatan Safari Jumat di Masjid Al-Mukarromah di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan Jumat, (22/1). Kegiatan Safari Jumat merupakan kegiatan rutinitas sebagai ajang silaturahmi dengan masyarakat di Babel. Sehingga hubungan antara Gubernur Erzaldi dengan masyarakat tetap terjalin dengan baik

Tradisi ini digelar secara turun teurun dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelaksanaan tradisi "Nganggung" atau berdoa dan makan bersama di masjid dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah ditiadakan.

Gubernur Kepulauan Babel Erzaldi Rosman Djohan  mengatakan larangan nganggung merupakan tradisi masyarakat Bangka Belitung yang digelar secara turun temurun dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha dan peringatan hari besar keagamaan lainnya ini berdasarkan kesepakatan bersama Forkopimda provinsi, kabupaten, kota, tokoh agama dan masyarakat sebagai langkah menekan kasus penyebaran COVID-19 yang mengalami peningkatan yang tinggi.

Baca Juga

"Kami juga sepakat pejabat dilarang untuk melaksanakan open house dalam merayakan lebaran ini," katanya.

Menurut dia tradisi "nganggung" ini sebagai bentuk rasa syukur umat kepada Allah yang mencerminkan semangat kebersamaan, gotong royong, tolong menolong dan pemersatu umat dalam menuju kebaikan.

Tradisi nganggung ini juga dilakukan dalam bentuk suka cita masyarakat yang memiliki keunikan dan kekhasan masyarakat berbudaya melayu, yaitu makanan ditempatkan di dalam dulang kemudian ditutup dengan tudung saji dan dulang tersebut hanya boleh dibawa kaum laki-laki ke masjid.

"Tradisi masyarakat yang baik ini harus ditiadakan perayaan lebaran tahun ini, mengingat angka kasus penularan virus corona yang tinggi," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X