Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Serabi Ponorogo, Kue Tradisional yang Tak Lekang Oleh Zaman

Ahad 09 May 2021 23:06 WIB

Rep: jatimnow.com/ Red: jatimnow.com

Kue Serabi: Serabi Ponorogo, Kue Tradisional yang Tak Lekang Oleh Zaman

Kue Serabi: Serabi Ponorogo, Kue Tradisional yang Tak Lekang Oleh Zaman

Serabi Ponorogo, Kue Tradisional yang Tak Lekang Oleh Zaman

jatimnow.com - Di tengah gempuran produk kuliner modern, serabi Ponorogo yang biasa dihidangkan sebagai takjil berbuka puasa masih banyak diminati. Kue tradisional ini tak lekang oleh zaman.

Endang Papik, salah satu penjual serabi di Kerun Ayu, Desa Ploso Jenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo mengaku bahwa dirinya sudah menjual serabi selama 20 tahun.

"Saya sudah menjual serabi selama 20 tahun. Saya generasi ke lima," ujar Endang, Minggu (9/5/2021).

Endang menjelaskan bahwa serabi Ponorogo lain dengan Serabi Solo atau Bandung. Serabi Ponorogo memiliki rasa gurih. Sedangkan serabi dari daerah lain cenderung manis dan lembek.

Saat ditanya resep, Endang mengaku hanya memakai bahan tepung beras, kelapa parut dan garam. Dengan resep itu, dalam sehari dia mampu menghabiskan 20 liter atau sekitar 40 adonan.

Serabi Ponorogo

Setelah jadi, Endang menjual satu porsi serabi dengan harga Rp 5 ribu untuk 5 potong. Endang bisa mendapat omzet per hari hingga Rp 1,2 juta.

"Sehari bisa seribu potong kue terjual," ujar Endang.

Lokasi berjualan Endang di Kerun Ayu memang strategis. Karena daerah itu merupakan jalan penghubung antara jalur Ponorogo dengan Wonogiri, Jawa Tengah.

Sejak larangan mudik diberlakukan, Endang mengaku sempat was-was. Sebab momen mudik lebaran Hari Raya Idul Fitri menjadi satu-satunya harapannya untuk meraup keuntungan.

"Biasanya banyak orang luar kota mampir ke sini untuk beli oleh-oleh. Tapi sejak adanya larangan mudik, ya bisa dipastikan jualan saya tidak akan sebanyak dulu," ungkap Endang.

Wanita berumur 40 tahun ini mengaku bahwa setiap ramadan warungnya buka pada siang sampai maghrib. Namun jika di luar bulan puasa, dia buka dari pagi sampai sore.

"Nah kan kalau ramadan bisa buat takjil. Lebaran nanti, hari raya kedua saya buka lagi," pungkasnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan jatimnow.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab jatimnow.com.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA