Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Cegah Indonesia Seperti India, Pakar Ingatkan 5 Faktor Ini

Ahad 09 May 2021 21:20 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Yudha Manggala P Putra

Petugas medis mengambil sampel untuk swab.

Petugas medis mengambil sampel untuk swab.

Foto: ANTARA/Oky Lukmansyah
Kelima faktor ini harus diamankan untuk mencegah ledakan kasus Covid kembali terjadi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar FKUI Tjandra Yoga Aditama menyebut lima faktor yang mempengaruhi Indonesia dalam hal pencegahan penularan Covid-19. Indonesia berpotensi alami kejadian seperti India kalau gagal mengamankan kelima faktor tersebut.

Prof Yoga mengatakan pertama protokol kesehatan (prokes) harus selalu ditingkatkan hingga level masyarakat paling bawah. Kedua, pengumpulan massa harus dapat dikendalikan.

"Ketiga, agar jumlah vaksin harus ditingkatkan. Adapun yang sudah divaksin harus tetap melakukan 3M," kata Prof Yoga kepada Republika.co.id, Ahad (9/5).

Berikutnya, prof Yoga menyarankan jumlah tes harus tetap tinggi pada setiap kabupaten/kota. Ia menekankan agar mengenai vaksin tidak hanya fokus pada angka nasional saja.

"Kelima, varian/mutasi baru harus dikendalikan," ujar prof Yoga.

Atas dasar itulah, Prof Yoga mewanti-wanti pemerintah dan publik di Indonesia agar memperhatikan 5 faktor di atas.

"Itulah 5 aspek kenapa India bisa naik tinggi angkanya, dan karena itu kita perlu mencegah 5 hal itu agar angka tidak naik seperti di India," lanjut prof Yoga.

Prof Yoga menyampaikan cara penanganan Covid-19 bisa melakukan dengan Penyelidikan Epidemiologi (PE) secara ketat. Ditambah lagi melakukan surveilans dengan baik, deteksi unusual event, memperkuat program pengendalian infeksi di RS dan tetap meningkatkan 3M, 3T dan vaksinasi.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya kenaikan kasus Covid-19 secara global dalam kurun waktu satu minggu sejak 25 April hingga 2 Mei 2021 jika dibandingkan dengan jumlah kasus pada enam bulan pertama pandemi. Kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengalami lonjakan kasus baru tertinggi hingga 19 persen.

"Dari laporan mingguan WHO minggu lalu sampai 2 Mei disebutkan bahwa jumlah kasus global dalam dua minggu melebihi kasus selama enam bulan pertama pandemi. Jumlah yang sangat tinggi, dengan lebih dari 5,7 juta kasus per minggu," ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat keterangan pers kedatangan vaksin tahap 12.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA