Keluarga Non Muslim di Abu Dhabi Ikut Berpuasa Saat Ramadhan

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nashih Nashrullah

 Ahad 09 May 2021 18:55 WIB

Athira dan Rakesh turut solidaritas berpuasa Ramadhan meski non-Muslim. Masjid Agung Shaikh Zayed di ibu kota UEA, Abu Dhabi. Foto: Republika/Teguh Firmansyah Athira dan Rakesh turut solidaritas berpuasa Ramadhan meski non-Muslim. Masjid Agung Shaikh Zayed di ibu kota UEA, Abu Dhabi.

Athira dan Rakesh turut solidaritas berpuasa Ramadhan meski non-Muslim

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI –  Warga Abu Dhabi, Athira dan Rakesh Radhakrishnan yang merupakan non-Muslim selalu menikmati puasa setiap Ramadhan selama sembilan tahun terakhir. 

Pasangan India itu berasal dari negara bagian selatan Kerala. Setelah menikah pada 2012, saat pasangan tersebut mendarat di Abu Dhabi, mereka terinspirasi oleh lingkungan pengabdian, kerendahan hati dan keharmonisan, terutama yang terlihat selama bulan suci.

Baca Juga

Mereka sangat ingin menjadi bagian dari bulan peremajaan spiritual dan dengan demikian berpuasa untuk mengekspresikan solidaritas dengan komunitas Muslim.

Rakesh berasal dari Thrissur dan Athira dari Thiruvananthapuram. Mereka tumbuh dalam komunitas di mana mereka dengan ramah menandai semua festival, memiliki teman dari agama yang berbeda, dan bekerja sama dengan semua orang tanpa memandang latar belakang mereka.

"Sejak kami datang ke sini dan dengan begitu banyak rekan Muslim, kami ingin mendukung mereka. Itu dimulai saat kami ikut puasa teman saya Nizar dan kemudian berlanjut," kata Rakesh, seorang akuntan di sebuah perusahaan sektor minyak swasta, dilansir di Khaleej Times, Ahad (9/5).

Athira mencatat bahwa Ramadhan pertama yang jatuh di musim panas yang terik pada Juli 2012 adalah ujian besar.

Menurutnya berpuasa pertama kalinya sangat sulit. Ia tidak yakin apakah bisa bertahan bahkan tanpa air minum. Namun, mereka berdua dapat menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

"Itu membuat kami sangat percaya diri dengan kemampuan kami. Sekarang kami tidak merasakan masalah seperti itu. Kami menyukai ritual ini," kata ibu rumah tangga itu.

Akan tetapi, Athira memastikan putrinya yang berusia tiga setengah tahun selalu makan dengan baik. Buka puasa mereka sederhana dengan kurma, jus lemon, dan buah-buahan. Diet seimbang untuk makan malam dan bubur nasi untuk sahur.

"Ramadhan telah membawa banyak pengendalian diri dan disiplin dalam hidup kami. Puasa menawarkan banyak manfaat kesehatan."

Aksi solidaritas mereka bahkan mengejutkan tetangga baru mereka. "Kami baru saja pindah ke komunitas baru. Tetangga kami, yang merupakan keluarga Muslim, sangat senang kami berpuasa. Mereka berbagi jajanan buka puasa," tambah Athira.

Sekarang, mereka berencana melakukan perjalanan darat ke Dubai untuk menandai Idul Fitri bersama teman-teman, tetapi tidak sebelum menyiapkan biryani dan 'payasam' (puding manis) gaya Kerala. 

 

Sumber: khaleejtimes

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X