Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Lonjakan Kasus Covid-19 India Berdampak ke Bangladesh

Ahad 09 May 2021 15:51 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Kerabat melakukan upacara terakhir untuk korban COVID-19 selama pemakaman mereka di tempat kremasi di New Delhi, India, Kamis (29/4). Delhi melaporkan 25.986 kasus baru, 368 kematian dalam 24 jam terakhir dan terus berjuang dengan pasokan oksigen.

Kerabat melakukan upacara terakhir untuk korban COVID-19 selama pemakaman mereka di tempat kremasi di New Delhi, India, Kamis (29/4). Delhi melaporkan 25.986 kasus baru, 368 kematian dalam 24 jam terakhir dan terus berjuang dengan pasokan oksigen.

Foto: EPA-EFE/IDREES MOHAMMED
Para ahli kesehatan memperingatkan akan kekurangan vaksin yang akan segera terjadi

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Lonjakan kasus virus corona di India berdampak berbahaya pada Bangladesh. Para ahli kesehatan memperingatkan akan kekurangan vaksin yang akan segera terjadi dan meningkatkan pengawasan varian virus yang lebih menular yang mulai terdeteksi.

Otoritas kesehatan Bangladesh pada Sabtu (8/5) mengatakan, untuk pertama kalinya, varian virus corona yang awalnya diidentifikasi di India ditemukan di Bangladesh. Selama berminggu-minggu, varian Afrika Selatan mendominasi sampel yang diurutkan di Bangladesh. Ada kekhawatiran bahwa versi itu menyebar lebih mudah dan vaksin generasi pertama mungkin kurang efektif melawannya.

Baca Juga

Para ahli mengatakan, penurunan infeksi di Bangladesh selama dua minggu terakhir dibandingkan dengan Maret dan awal April memberikan kesempatan yang sempurna bagi negara untuk meningkatkan vaksinasi. "Ini adalah waktu untuk memvaksin, menjaga infeksi tetap rendah dan memastikan bahwa varian baru tidak muncul di sini,” kata ilmuwan di Yayasan Penelitian Kesehatan Anak di Bangladesh, Senjuti Saha.

Tapi, India telah melarang ekspor vaksin karena bergulat dengan krisis di dalam negeri. Institut Serum India seharusnya memasok 30 juta dosis dengan 5 juta per bulan ke Bangladesh pada bulan Juni, tetapi badan itu hanya memasok 7 juta dosis dan telah menangguhkan pengiriman lebih lanjut sejak Februari.

 

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA