Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Pakar UI: Aksi Teror Bertentangan dengan Ajaran Agama

Sabtu 08 May 2021 15:52 WIB

Red: Agung Sasongko

Muhammad Syauqillah, Ketua Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia

Muhammad Syauqillah, Ketua Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia

Foto: Istimewa
Terorisme bukan ajaran agama mana pun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terorisme bukan ajaran agama mana pun. Bahkan dalam Islam aksi teror sangat bertentangan dengan inti ajaran Islam yang mengedepankan penjagaan terhadap kehidupan. Pun demikian dengan pengertian jihad yang masih banyak pihak salahartikan dan kaitkan dengan aksi teror.

Hal itu disampaikan oleh Muhammad Syauqillah, Ketua Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia dalam acara Inspirasi Sahur Islam dan Kebangsaan bertema “Terorisme Bukan Ajaran Agama” yang disiarkan melalui channel Youtube bknpusat PDI Perjuangan pada Sabtu (8/5). Acara tersebut dipandu oleh Host Muhammad Putri Novalianota dalam acara sahur yang ditayangkan rutin setiap pukul 03.00 WIB.

Baca Juga

“Tidak bisa dipungkiri juga, memang pelaku teror itu rata-rata berbasis latar belakang keagamaan. Kalau di Indonesia misalnya mayoritas bergama muslim, di India dan Myanmar itu Hindu dan Budha. Dan kalau kita tengok ke negara-negara lain memang terorisme itu tidak dimonopoli atau milik agama agama tertentu,” ujar Syauqillah dalam keterangan persnya, Sabtu (8/5).

“Ada misalnya terorisme berbasis supremasi kulit putih, seperti yang baru-baru ini kita lihat di Amerika. Ada juga yang berbasis etnonasionalism, seperti PKK yang ada di Kurdi, Suriah atau Turki. Atau ada juga yang terkait dengan gerakan right wing atau left wing seperti yang terjadi di Amerika Latin atau negara-negara lain,” lanjut Syauqillah.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA