Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Perlu Bentuk Kebudayaan Baru untuk Persiapan PTM

Jumat 07 May 2021 20:01 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Mas Alamil Huda

Siswa SD Negeri Cemara 2 Solo yang mengikuti simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 di Solo, Jawa Tengah, Rabu (5/5).

Siswa SD Negeri Cemara 2 Solo yang mengikuti simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 di Solo, Jawa Tengah, Rabu (5/5).

Foto: Antara/Maulana Surya
Masalah sesungguhnya adalah membangun budaya baru yang terbentuk akibat Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah Kementerian Agama (Kemenag) A Umar mengatakan, masalah pembelajaran tatap muka (PTM) bukanlah kesiapan fisik atau psikis. Namun, masalah sesungguhnya adalah membangun budaya baru yang terbentuk akibat Covid-19. 

"Kita semua warga Indonesia khususnya di madrasah harus bisa menyelesaikan persoalan utama kita. Apa itu? Persoalan utama kita adalah tentang membangun budaya. Membangun budaya baru ini bukan sesuatu yang mudah, tetapi sesuatu yang sangat sulit," kata Umar, dalam diskusi daring, Jumat (7/5). 

Menurutnya, terdapat dua cara untuk membentuk budaya baru tersebut. Cara pertama yakni proses penyadaran melalui keteladanan, dan cara kedua yakni dengan pemaksaan. Umar menjelaskan, terkait dengan pemaksaan bukan berarti memaksa membentuk budaya, namun mengondisikan dengan pengawasan dan pengendalian yang ketat. 

"Anak-anak diberi contoh. Kalau ada anak-anak yang sedikit lalai, memakai masker, mencuci tangan, diingatkan. Terus diingatkan. Itu pembiasaan dengan mengondisikan sesuatu. Dengan cara ini, insya Allah Juli Covid-19 landai," kata Umar menambahkan. 

Lebih lanjut, Umar mengatakan, pihaknya mendukung kebijakan pembelajaran tatap muka oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Ia mengimbau agar madrasah-madrasah mengikuti keputusan bupati/wali kota setempat. Meskipun madrasah tidak berada di bawah bupati/wali kota, khusus untuk tatap muka ini harus mengikuti pemerintah daerah. 

"Ikuti petunjuk SKB Empat Menteri dan ikuti perintah atau keputusan bupati/wali kota. Ini yang penting harus dipahami," kata dia menegaskan. 

Ia menilai, sebagian besar madrasah sudah siap melakukan pembelajaran tatap muka. Apalagi, setelah lebih dari satu tahun tidak bertemu guru dan teman sekelas, justru membuat siswa merasa tertekan. Umar berharap dengan sekolah tatap muka, para siswa bisa lebih bahagia dan bermanfaat untuk meningkatkan imun mereka.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA