Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Pelestarian Cagar Budaya Jadi Konsep Utama Revitalisasi Kota

Jumat 07 May 2021 18:17 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Indira Rezkisari

Kawasan Kota Tua Jakarta.

Kawasan Kota Tua Jakarta.

Foto: republika.co.id
Kota Tua akan dipugar dengan tujuan utama menarik wisatawan lokal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan merevitalisasi kawasan Kota Tua yang berlokasi di Jakarta Barat. Upaya revitalisasi termasuk membangun fasilitas traportasi terintegrasi, salah satunya MRT. Tim Sidang Pemugaran (TSP) DKI Jakarta meminta agar penataan dilakukan dengan tujuan menjaga keseimbangan agar kawasan itu bisa terus bertahan.

Ketua TSP DKI Jakarta, Boy Bhirawa, mengatakan, Kota Tua merupakan kawasan cagar budaya. Karena itu konsep utama yang diusung adalah melestarikan budaya, bukan hanya pariwisata. "Tapi yang lebih penting, kota itu hidup lagi. Sebab dulunya memang hidup," kata Boy dalam webinar bertajuk 'Pemugaran Cagar Budaya di DKI: Hal-Hal Yang Penting Kita Ketahui', Jumat (7/5).

Boy lantas menyoroti rencana moda transportasi terintegrasi di Kota Tua. Baginya, itu adalah rencana yang bagus karena bisa membuat Kota Tua kembali hidup. Apalagi dengan hadirnya MRT di sana.

"Hidup itu kan berarti ada lagi penghuninya, ada daya ekonomi, sosial, dan kebutuhan masyarakat itu terpenuhi seperti sekolah, taman bermain dan rumah sakit," ujarnya.

Ia lantas mengingatkan, rencana moda transportasi terintegrasi itu bisa buyar dari sisi pelestarian cagar budaya jika dikelola tanpa kreativitas. Pemerintah jangan hanya mengacu pada aturan dalam memilih tempat pembangunan stasiun ataupun halte, tapi juga harus mengandalkan kreativitas agar Kota Tua tumbuh jadi kawasan yang benar-benar hidup.

Sosok penerima Penghargaan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) 2017 kategori bangunan konservasi itu menjelaskan, jika pembangunan fasilitas transportasi membuat ekonominya terlalu maju juga bisa jadi masalah karena warga yang tak punya uang akan terpental dari sana. Pariwisata yang terlalu maju juga menimbulkan masalah karena akan lebih banyak tamu dibanding penghuni.

"Jadi keseimbangnan ini harus terjaga dan ini tidak mudah. Solusi transportasi itu membutuhkan kreativitas dalam mengelolanya dan meletakkan stasiunnya," kata dia.

Di kawasan Kota Tua terdapat berbagai museum. Mulai dari Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Bahari, dan Museum Seni Rupa dan Keramik. Ada juga Gedung Jasindo dan Pos Indonesia.

Sebelumnya, Kementerian BUMN, Kementerian Pariwisata, dan Pemprov DKI Jakarta bersama pihak swasta yaitu Jakarta Experience Board/PT Jakarta Tourisindo (JXB), PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau dikenal sebagai Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) akan membenahi Kota Tua menjadi destinasi berkelas dunia. Konsep revitalisasinya adalah wisata sejarah.

Gubernur Anies ketika penandatangan kesepakatan revitalisasi itu, sempat menyampaikan wacana untuk mengubah nama Kota Tua jadi Batavia. Ketika penandatangan kontrak pembangunan MRT Fase 2 (Bundaran HI - Kota Tua), Anies menyampaikan rencana menjadikan Kota Tua sebagai kawasan yang memiliki fasilitas transportasi yang terintegrasi.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan bahwa revitalisasi Kota Tua ditujukan untuk membangun pasar turis lokal atau domestik di tengah momentum pemulihan ekonomi nasional. Fokus pada pembangunan turis lokal itu, menurut Erick, berdasar pada data tren turis domestik yang berada pada kisaran 78 persen secara nasional.

"Sudah saatnya kita membangun destinasi turis lokal, kita tidak boleh hanya berfokus pada turis internasional," kata Erick ketika penandatanganan revitalisasi Kota Tua pada Rabu (28/4) lalu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA