Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Geliat Profesi Ahli Bangunan Hijau di Indonesia

Jumat 07 May 2021 16:23 WIB

Red: Hiru Muhammad

Ikatan Ahli Bangunan Hijau Indonesia (IABHI)  menjalin kolaborasi dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Hal ini ditandai dengan acara seremonial penandatanganan Nota Kesepahaman antara IABHI dengan UMN Kamis (6/5).

Ikatan Ahli Bangunan Hijau Indonesia (IABHI) menjalin kolaborasi dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Hal ini ditandai dengan acara seremonial penandatanganan Nota Kesepahaman antara IABHI dengan UMN Kamis (6/5).

Foto: istimewa
Konsultan Bangunan Hijau harus mengetahui proses bangunan berdiri hingga dihancurkan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Hingga kini belum banyak masyarakat yang memahami profesi ahli bangunan hijau di Indonesia. Padahal diperlukan tingkat keahlian tertentu untuk bisa menjadi Konsultan Sertifikasi Bangunan Hijau. "Seorang Konsultan Bangunan Hijau perlu memahami 3 hal yaitu paham daur hidup bangunan, paham kolaborasi multidisiplin dalam sebuah Proyek, serta paham kebutuhan dokumentasi dalam sertifikasi", kata Dian Fitria, praktisi Bangunan Hijau dan staff pengajar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Menurutnya, seorang Konsultan Bangunan Hijau harus mengetahui proses dari bagaimana sebuah bangunan didirikan, bagaimana cara operasional bangunan, sampai dengan bagaimana bangunan ini akan dihancurkan apabila masa pakainya sudah habis. Dengan memahami aspek-aspek ini, seorang Konsultan Bangunan Hijau akan bisa memberikan rekomendasi yang menyeluruh dalam sebuah Proyek.

Meskipun tidak bisa dipungkiri tantangan terbesar untuk implementasi Bangunan Hijau di Indonesia ini adalah terkait keterbatasan biaya, namun diakui oleh para praktisi bahwa tidak selamanya hal ini menjadi masalah. Hal ini terbukti dengan pada beberapa Proyek yang sudah dijalankan, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan seperti melakukan perhitungan penghematan yang bisa diraih oleh Bangunan tersebut dengan menerapkan konsep Bangunan Hijau.

Karena itu Ikatan Ahli Bangunan Hijau Indonesia (IABHI)  menjalin kolaborasi dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Hal ini ditandai dengan acara seremonial penandatanganan Nota Kesepahaman antara IABHI dengan UMN Kamis (6/5).

Bintang Nugroho, Ketua Umum Ikatan Ahli Bangunan Hijau Indonesia mengatakan, bangunan kampus UMN yang didedikasikan sebagai kampus hijau jelas menjadi teladan yang sangat mengilhami tentang penerapan hidup peduli keberlanjutan. "Kolaborasi ini bertepatan dengan dicanangkannya konsep dan gagasan Kampus Merdeka Belajar yang difasilitasi Pemerintah, kiranya merupakan signal kesesuaian momentum yang mendukung," katanya. 

Rektor UMN Dr. Ninok Leksono menyambut positif kolaborasi antara IABHI dengan UMN. Meski isu Bangunan Hijau tidak terlalu terdengar seperti isu global warming, namun tidak bisa dipungkiri Bangunan Hijau adalah hal yang tidak bisa kita hindari baik di masa kini maupun mendatang sebagai upaya pengurangan emisi dan menuju sustainability. "Seperti di masa lalu ahli IT kita anggap sebagai support sedangkan sekarang di era revolusi sekarang ini berperan sangat penting. Saya yakin nantinya ahli Bangunan Hijau juga akan menempati posisi yang lebih tinggi daripada saat ini," tuturnya.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari sesi sebelumnya yang juga masih terkait dengan Perkenalan Profesi Praktisi Bangunan Hijau di Indonesia. Acara yang dihadiri lebih dari 450 orang melalui platform Zoom dan YouTube Live ini menghadirkan dua orang narasumber yang berpengalaman dalam industri Bangunan Hijau di Indonesia. 

Sebagai informasi, di Indonesia sendiri saat ini sudah banyak tolok ukur sertifikasi Bangunan Hijau yang digunakan. Salah satunya dikenal dengan nama Greenship, yang merupakan tolok ukur buatan Indonesia sendiri. Selain itu ada juga tolok ukur dari Amerika Serikat yang disebut Leadership in Energy and Environmental Design (LEED), Green Mark dari Singapura, maupun Excellence in Design for Greater Efficiency (EDGE) dari International Finance Corporation (IFC). Para ahli dari tiap tolok ukur ini juga sudah cukup banyak di Indonesia, sehingga sebetulnya tidak ada kesulitan bagi pelaku industri bangunan untuk menemukan ahli yang berpengalaman dalam tolok ukur masing-masing.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA